Tentang Aku

Tentang Aku

“Eh.. Pinter.. Bayinya keluar sendiri…”

Shubuh tanggal 8 bulan Juni tahun 1998, aku keluar dari rahim ibuku untuk menunaikan amanah yang diberi Allah, tinggal di dunia.


Namaku Hammad Rosyadi. Nama lahirku, Hammad (saja) nggak pakai (saja). Nama “Rosyadi” pada namaku ditambahkan berbarengan dengan penamaan adikku yang kedua (bungsu). Karena kebetulan akta kelahiranku hilang, maka sekalian namaku diganti (atau mungkin lebih tepatnya ditambah) bersama dengan pembuatan akte adik.

picsart_02-14-02-48-53
Tuan Website Ini

Aku (merasa) masih muda. Walaupun, sebagian besar orang yang baru kenal denganku, selalu mengira usiaku sudah 4-5 tahun lebih tua dari usiaku yang sebenarnya.

Aku baru memasuki usiaku yang ke-19 tahun. Sebetulnya, aku sendiri tidak terlalu membanggakan ‘kemudaan’ku. Justru aku malu. Di usiaku yang  19 tahun ini, belum banyak yang aku buat.

Bandingkan saja dengan Imam Syafi’i, Sultan Muhammad Al-Fatih di usia yang sama. Jangan terlalu jauh, dibandingkan dengan Imam Hasan Al-Banna (pada usia yang sama) saja, mungkin aku cocok jadi pembantunya.

Aku tidak menempuh pendidikan formal sebagaimana kebanyakan orang. Bukan merupakan kebanggaan bagiku, bukan juga suatu kehinaan bagiku. Biasa saja.

Sebagian orang, entah itu yang menempuh pendidikan formal ataupun tidak, begitu membanggakan jalur yang ia tempuh. Aku? Aku bersyukur saja dengan apa yang aku jalani saat ini, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Aku, sejak memasuki usia baligh, lebih suka mempelajari ilmu-ilmu agama dan yang berkaitan dengannya. Menghafal Qur’an adalah target pertama yang ingin kuselesaikan.

Setelah menyelesaikan setoran, targetku berikutnya adalah mendapatkan sanad bacaan dari orang yang memiliki rantai bacaan hingga Baginda Nabi. Beliau adalah Syaikh Ahmad Al-Kannash, daru Suriah.

Sayangnya, baru menyetorkan 2,5 juz al-Qur’an, aku sudah mendapat amanah untuk mengajar al-Qur’an di pulau seberang.

Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Sebetulnya, dengan 2,5 juz itu aku bisa dibilang sudah memiliki pondasi pada makharijul huruf dan tajwid, karena pada setoran-setoran terakhir, aku cukup lancar saat setor dengan Syaikh berikut tahsinnya.

Namun, rasa kurang itu masih tetap ada. Sampai sekarang, ilmuku masih sedikit sekali. Aku begitu menyesal tidak memanfaatkan waktu-waktuku dengan baik.


Dalam aqidah, aku menganut faham Ahlussunnah Asy’ariyyah. Sedangkan dalam kebanyakan permasalahan fiqih, aku ikut pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut madzhab Imam Asy-Syafi’i.

Perihal tasawwuf, aku mengikut jalannya DR Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy yang tidak bergabung dengan satu tariqah tertentu, tanpa menyesatkan mereka secara mutlak. Adapun dalam gerakan Islam, aku ikut mendukung kelompok pergerakan Ikhwanul Muslimin.


Hammad Rosyadi adalah anak kelima dari tujuh bersaudara yang lahir dari pasangan Riyadh Rosyadi dan Retno Damayanti, semoga mereka berdua senantiasa disayang oleh Allah.

Aku memanggil ayahku dengan panggilan “Abah”. Asal-muasalnya, ketika masku yang paling pertama bayi, Abah mendiktekan panggilan yang ketika itu beliau kehendaki, yaitu “Abi”. Namun, rupanya abang sulungku itu manggilnya malah “Abah”. Udah.

Kalau ibuku, aku panggil beliau dengan panggilan “Ummi”. Alhamdulillah, panggilan yang beliau ajarkan ke anak-anaknya nggak ada yang “typo”. Hehe.

Beberapa cerita tentang Abahku, telah aku tulis pada artikel panjang tentang bapak dan kakek-kakekku yang sudah aku hapus. Adapun tentang Ummi, belum pernah aku menulisnya. Bukan karena nggak ada cerita, tapi belum sempet aja.

Adapun saudara-saudaraku, mereka sebagian punya blog sendiri, sebagian nulis buku sendiri, sebagian nulis di akun sosial medianya sendiri. Jadi, nggak perlu aku ceritakan tentang mereka di sini, kecuali cerita-cerita yang tidak terekspos pada sosmed mereka. Hahaha.


Secara nasab, kedua orang tuaku didominasi dengan darah Jawa. Abah, dari kedua orang tua sampai kakek ke sekian adalah orang Jawa semua. Cuma, di salah satu kakek buyut ada orang Yaman, sedangkan di nenek buyut ada keturunan orang Cina.

Makanya, kata Gus Dur, “(Keluarga) Kita ini keturunan Arab-Cina”. Haha, mungkin cocok jadi penengah 2 etnis yang kayanya lagi dipro-kontra-in banget di Indonesia.

Kalau Ummi, beliau masih keturunan Syarif. Tapi orang-orang tua Ummi kayaknya udah keasyikan hidup di Jawa (Tengah) dan jadi orang Jawa. Makanya, budaya Arabnya udah nggak begitu dipegang dan akhirnya nikah sama orang ‘ajam, hehe.

Kalau diliat-liat, mukaku sama saudara-saudaraku itu nggak begitu mirip satu sama lain, kecuali dikit. Khusus mas Han, dia yang paling keliatan ngarab, dari struktur muka sama jenggotnya, terutama. Walaupun posturnya malah yang paling kecil diantara laki-laki yang lain, he.

Banyaknya darah Jawa di dalam diri aku bikin saya cocok dengan hal-hal yang berkaitan dengan Jawa, terutama di selera makan sama akhlaknya. Kalau soal budaya kejawen, aku nggak cocok, lah.

Makanan yang paling aku suka itu makanan yang manis-manis, sedangkan yang pedes malah nggak begitu suka. Kalau lagi ada kecap, hampir setiap jenis makanan suka aku bakal tambahin kecap.

Masih inget banget, awal mula aku tergila-gila dengan kecap itu waktu nyoba orak-arik telur ditambahin kecap. Walaupun kata orang, selera makanku rada ngga normal, tapi aku nikmatin banget. Haha.

Waktu di Sumatera, beberapa bulan awal aku dikasihnya makanan khas sana yang kebanyakan pedes-pedes. Aku si nggak anti, ya dimakan juga. Namanya kalo udah laper mah, semuanya juga dimakan. Tapi, biasanya kalo makan pedes, aku nggak akan nambah. Bagiku, makanan pedes bikin cepet kenyang, hmm.

Suatu hari, aku diajak sama yang nanggung makanku selama di sana untuk makan di rumah makannya (biasanya udah dibungkusin). Di sana aku dikasih ayam bakar kecap.

Untuk makan, aku diajarin sama Ummi dari kecil, lauknya itu sedikit aja, nasinya yang banyak (doktrin biar ngirit). Jadi, kalau emang lauknya adanya dikit, ya makan dikit. Kalau ada lebihnya, nanti bisa digado kalo nasinya udah abis.

Waktu makan ayam bakar kecap itu, aku gitu juga. Cuma yang beda dari hari-hari lainnya, aku waktu itu nambah nasi sampe dua kali, haha. Entahlah, kalo udah cocok, ya ga nanggung-nanggung, :p.

Dari situ, kemudian yang biasa nanggung aku makan jadi paham tentang seleraku sebagai wong Jowo.

Selera makanku yang suka manis-manis dan nggak begitu suka yang pedes ini semakin aku doktrinkan ke diri sendiri waktu tau bahwa Baginda Nabi Muhammad ternyata selera makannya juga begitu (yeaay).

Kalau soal akhlak Jawa, mungkin udah masyhur ya. Temenku yang dari Sumatera aja langsung pengen nikah sama wanita Jawa, waktu tau gimana kulturnya orang-orang Jawa, haha. Alhamdulillah dia kesampean juga nikah sama perempuan Jawa.

Kalau buat aku pribadi, masalah pasangan mah, nggak terbatas dan nggak membatasi diri maunya orang Jawa aja tau apa. Yang penting akhlaknya. 😀


Hei, Alhamdulillah aku sudah menikah, lho. Maaf baru update. Aqad nikahku telah dilaksanakan sekitar 5 bulan yang lalu (aku menulis ini tanggal 9 Oktober 2017), lebih tepatnya tanggal 1 Mei. Hihihi, sejak saat itu, aku jadi sangat jarang kembali mengisi blogku. Barangkali, jika diibaratkan sebagai sebuah rumah, blogku (yang lalu) sudah seperti rumah yang dipenuhi oleh sarang laba-laba. Untuk perihal ini, aku tulis tersendiri di postingan lain, yah. Sekalian untuk ngisi blog baru, hehe. Silakan baca di sini: Update Status.