Usia 20-an, Jangan Abai Sama 6 Hal Ini

Tulisan ini terinspirasi dari video Matt D’Avella yang berisi semacam penyesalannya saat melewati usia 20 tahunannya dengan melewati 6 hal ini. Semacam ringkasan dengan tambahan dan pengurangan dari opiniku sendiri. Aku catat kembali di sini sebagai pengingat untukku — yang mudah lupa.

Usia kepala dua adalah momen pembuka dari kehidupan dewasa sejati. Di sana kita mulai mengenal cinta (yang lebih serius), pendidikan (yang tanggung jawabnya lebih serius), dunia kerja, persaingan, ada juga yang sudah mulai berkeluarga, dan sebagainya. Banyak orang yang menentukan arah hidupnya ke depan di masa-masa ini juga.

Sebagai orang yang baru memasuki usia kepala 3 (31 tahun, menurut sumber ini), dia kasih pesan buat manteman yang mulai berkepala dua yang berkaitan soal kehidupan 20-an ini. Pastinya, pesan-pesan dia nggak wajib untuk diamalin, sih. Yang wajib diamalkan hanya perintah-perintah-Nya.

Langsung aja masuk ke pembahasan.

Jadi Orang yang Lebih Bertanggung Jawab

Anak-anak muda, biasanya masih senang sama yang namanya hura-hura. Kebanyakan, pikirannya masih YOLO (you only live once). Kalau digunakan untuk hal yang positif, sebenernya mindset kaya gitu nggak ada salahnya. Malahan, bisa jadi muttaqien, Anda.

Tapi, realitanya, banyak yang jadi kurang perhatian terhadap tanggung jawab, terutama dalam hal ini, masalah keuangan.

Dalam hal ini, Bang Matt kasih contoh dari kehidupannya sendiri, yang karena dia mengentengkan sebagian mata kuliah, dia sempat harus rasib (failed) dan mengulang setahun perkuliahannya.

Barangkali, kamu menganggap ini biasa, berarti emang kamu anak muda. Tapi, coba kita ‘naik’ jadi agak dewasa sedikit.

Dia ngelanjutin, bahwa karena sebab rasib-nya dia itu, dia harus mengeluarkan uang kurang lebih $10.000 untuk biaya kuliah dan hidupnya setahun (pengulangannya). Kalau merujuk ke kurs ter-update, kurang lebih setara dengan Rp. 158,000,000. Lumayan, ‘kan?

Kalau dibawa ke konteks perkuliahan di Mesir, yang rata-rata biaya mahasiswa S1 per bulan sekitar 1,5-2,5 juta, mengulang setahun itu sama dengan nambah biaya 18-30 jutaan. Bisa buat modal nikah itu! Belum lagi kalau mutazawwij kayak diriku ini yang rata-rata pengeluaran per bulan 4,5-5 juta. Mengulang setahun sama dengan keluar duit 54-60 jutaan. Itu bisa nikah sampai 3x lagi!1!

Tuh, lihat, kan? Kadang penyepelean kita terhadap hal yang kita anggap enteng itu, berdampak besar. “Tapi, nggak kerasa, tuh!” Ya, ente kagak ngerasa, kan masih dibayarin!

Lanjut.

Di masa-masa ini juga, kita bisa mulai lebih rapi lagi dalam mencatat pengeluaran dan pemasukan. Walaupun masih belum berkutat dengan nominal yang besar, tapi, kebiasaan mencatat ini akan jadi kebiasaan yang bagus untuk kehidupan kita ke depan. Ingat, nggak akan ada yang menanggung apa yang jadi tanggung jawab pribadi kita.

Perbanyak Praktek untuk Melahirkan Kepercayaan Diri

Untuk jadi seorang yang mahir, nggak cukup buat kita sekedar belajar aja tanpa praktek. Untuk jadi dokter aja, setelah kuliah kedokteran 4 tahunan, harus praktek lagi 2 tahun.

Nah, sambil mengisi waktu kuliah, kita bisa belajar soft skill lain yang kiranya bisa menunjang atau sekedar jadi tambahan skill kita, dengan praktek sedikit demi sedikit.

Bang Matt dalam hal ini, dia cerita tentang profesi dia yang seorang videografer (terkenal). Di kelasnya saat ini aja, dia masih nyesel, kenapa dulu nggak praktek lebih banyak lagi.

Pastinya bukan sekedar praktek dan berhenti, ya. Tapi ada evaluasi juga. Rumusnya; belajar + praktek + evaluasi = ahli. Ngomongnya gampang, sih. Prakteknya, nih.

Catatan: Ini dalam skill-skill yang memang memungkinkan untuk dipraktekin langsung, ya, semacam desain, videografi, fotografi, public speaking, dan sebagainya. Kalau skill kedokteran, mohon jangan dicoba kayak gini, bisa mal praktik nanti. ;’v

Barangkali, dalam masa mempraktekkan ilmu-ilmu yang udah kita pelajari ini, awalnya akan terasa membosankan, apalagi kalau gagal terus. Tapi, kalau kata pepatah, setiap puncak, pasti dimulai dari langkah pertama, bukan?

Perbanyak Dokumentasi

Selanjutnya, menurut Bang Matt D’Avella (and i agree with him), kita perlu memperbanyak dokumentasi perjalanan hidup kita. Mau dengan karya yang berkelas, gaya-gaya keren, atau ala kadarnya bukan masalah.

Barangkali, memang kita bukan apa-apa sekarang. Tapi, kita nggak tahu kedepan jadi apa, ‘kan? Bisa jadi, dokumentasimu di masa kini bakal jadi motivasi buat orang-orang di masa yang akan datang saat melihat kita, yang sudah punya prestasi tertentu, ternyata juga mulai dari bawah. (AAMIIN)

Kalaupun nggak ada yang spesial di masa depan (menurut kita), ketika kita lihat dokumentasi usia 20-an, pasti ada rasa senang tersendiri. Intinya nothing to lose lah dalam hal ini.

Mungkin sekarang agak canggung karena alay. Tapi nanti bakal jadi kenangan indah. :’)

Merawat Wajah

Nggak bisa disangkal, bahwa wajah adalah salah satu aset yang perlu untuk dijaga. Dalam mencari dan menjaga pasangan hidup pun, dia punya andil yang nggak sedikit. Bukan berarti harus diutamakan banget, tapi juga nggak ditelantarkan tanpa dirawat gitu aja, kan?

Hidup di dunia yang udah hampir setiap hari terpapar polusi, bikin wajah harus betul-betul dirawat dan dijaga. Mulai dari masalah minyak, kulit kering, dan sebagainya. Walaupun di usia 20-an masih keliatan mulus-mulus aja, tapi dalam 10 tahun? 20 tahun lagi? Yakin nggak ada efeknya?

Mulai lebih sering perhatiin wajah, minimal sabun wajah nggak lewat. Sukur-sukur kalau bisa kasih suplemen tambahan kaya pelembab, pembersih, vitamin, dan skincare lainnya.

Banyak Nge-Date Sama Pasangan

Jadi Doi ini karena terlalu sibuk dengan kerjaan dan karirnya, sempat nggak ngedate sama pasangannya selama 5 tahun. Gile sih. Tapi, ya, sebagai muslim, jangan lakukan ini kecuali yang jadi teman date Anda sudah halal dengan Anda.

Barangkali, kalau belum punya pasangan, kamu bisa ajak adekmu. Pasti dia senang.

Travelling

Mumpung masih belum banyak beban dan masih kuat, kalau memang sempat, nggak ada salahnya banyakin pengalaman, mau itu ke luar negeri atau di dalam negeri. Btw, setelah ke luar negeri, aku baru sadar banyak banget spot wisata di Indonesia yang belum aku kunjungi.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.