Mereka Bukan Generasi Pemarah

  1. Tulisan ini adalah bagian ke-44 dari rangkaian tulisan Damaskus Punya Cerita yang ditulis oleh Ustadz Fauzan (Fauzan Inzaghi), mahasiswa di Universitas Ahmad Kuftaro, Damaskus, Suriah. Judul asli bagian ini adalah “Generasi Shalahudin al-Ayyubi dan Jihad Generasi Kita untuk Kebebasan Palestina! – (19 Oktober 2015)”

Buku di bawah ini yang berjudul “Beginilah Lahirnya Generasi Shalahudin, dan Beginilah al-Quds Kembali” menceritakan bagaimana proses lahirnya generasi emas pembebas Masjid al-Aqsha. Kita tidak bicara hasil, tapi proses. Karena kita sering tahu enaknya saja, lupa bagaimana proses perjuangan ditempuh.

Buku ini wajib dibaca siapa saja yang punya mimpi melihat kebebasan Palestina. Selama ini kita selalu berbicara tentang kepahlawanan Shalahudin al-Ayyubi membebaskan Palestina dari tangan Tentara Salib dan kemurahan hati beliau ketika memaafkan Tentara Salib dan menyuruh mereka kembali ke tanah air mereka tanpa dihukum atas genosida mereka terhadap penduduk Palestina.

Kita lupa dibalik jihadnya Sultan Shalahudin, ada proses panjang yang harus dilalui. Perlu diingat, Shalahudin al-Ayyubi tidak sendirian membebaskan Palestina. Beliau bersama pemuda-pemuda gagah dari generasi yang sama dan pendidikan yang sama. Dari Madrasah Nizhamiyah. Tidak mudah untuk mencetak generasi ini. Butuh proses panjang mendidik sebuah generasi. Sultan Shalahudin harus menunda keinginan hati yang bergelora untuk berjihad selama puluhan tahun, sampai akhirnya mendapat izin dari mursyidnya dalam ilmu tashawwuf.

Gurunya menasehatinya, “Semangat melawan kekafiran dan kezhaliman saja tidak cukup untuk membebaskan Palestina. Iman kamu sendiri saja tidak cukup untuk membebaskan Palestina.”

Gurunya menasehati Shalahudin agar memperbaiki umat Islam terlebih dahulu. Pengajaran ilmu memperbaiki hati untuk berjihad melawan diri sendiri dan hawa nafsu terlebih dahulu, sebelum melawan musuh dimulai.

Dari Damaskus, pengajian kitab Ihya Ulumudin di madrasah dan masjid di seluruh penjuru negara digalakkan. Kemudian pembacaan Barzanji dimana-mana, dengan diperbanyaknya majelis maulid untuk menambah kecintaan kepada Nabi.

Perlu diketahui, kerusakan moral dan agama pada zaman itu tidak jauh beda dengan zaman ini. Hancur! Karena itu, proses perbaikannya nggak mudah dan sangat panjang. Butuh beberapa puluh tahun untuk mengubah generasi yang rusak ini. Dan ketika generasi baru telah terbentuk, iman mayoritas umat Islam sudah kokoh, orang berilmu agama bertambah, maka fatwa jihad pun dikumandangkan.

Pembebasan Palestina sukses besar. Tentara Salib dipukul mundur dengan elegan. Bahkan musuh sendiri mengakui keramahan Tentara Ihya Ulumudin ini. Tak ada balas dendam dari tentara muslim atas apa yang dilakukan musuh di masa lalu.

Kembali ke alam nyata.

Apakah generasi sekarang sudah siap untuk membebaskan Palestina? Berbuat ramah terhadap musuh yang pernah menindas kita? Generasi ini? Generasi yang hidup di sekitar kita ini yang diharapkan membebaskan Palestina?

Ujian nyontek, foto di Facebook alay, berita fitnah disebarkan, makian dengan mudah dikeluarkan, shalat subuh jam 8, pergaulan muda-mudi wallahua’lam, jadi pegawai sering bolos, berdagang curang, sedekah jarang, bahkan ada yang tidak tahu cara membayar zakat, perceraian dimana-mana, anak-anak alay merajalela, kafe penuh, masjid sepi!

Generasi seperti ini yang dipersiapkan untuk jihad membebaskan Palestina?

Jangan membuatku tertawa, kawan! Ingat, kawan! Shalahudin tidak berperang sendiri, tapi beliau berjihad dengan generasi emas. Kelembutan yang mereka tampakkan kepada musuh seperti ketika Shalahudin mencuci kaki Raja Richard, atau ketika muslimin membebaskan semua Tentara Salib yang sebelumnya begitu ganas, itu bukan proses satu dua hari.

Apakah generasi yang memaki siapa saja yang tidak setuju dengan politik mereka akan melakukan seperti apa yang Shalahudin lakukan? Saya rasa, dengan melihat generasi yang ada saat ini, Anda tahu jihad apa yang harus anda lakukan.

Ketika Rasulullah mengatakan, “Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad yang besar,” selepas berperang, tentu kata-kata itu bukan basa-basi. Karena faktanya, berjihad melawan hawa nafsu dan diri sendiri jauh lebih berat. Saat kita berhasil mengalahkan diri sendiri dan hawa nafsu, otomatis iman meningkat, generasi iman inilah yang dikatakan mujahid sejati. Kalau sudah begitu, tenang saja, Tuhan akan memenangkan kita!

Senjata? Keahlian? Dana? Itu memang perlu. Tapi keyakinan iman yang besar dalam hati para mujahid yang lahir dari generasi melawan hawa nafsu jauh lebih penting. Karena orang beriman akan berjihad dengan keyakinan Allah bersama mereka. Kalau Tuhan bersama kita, adakah yang bisa mengalahkan kita? Senjata secanggih apapun tidak ada gunanya kalau Tuhan bersama kita. Perang badar menjadi bukti.

Itu kan zaman Rasul?

Mau tau jihad di zaman ini? Syaikh Ahmad Yasin telah memperlihatkan bagaimana beliau berjihad melahirkan generasi Gaza. Berapa lama beliau harus menunda berperang melawan Israel yang secara frontal dan harus bersabar melawan penindasan?

Beliau mengubah generasi Palestina yang ketika mulai dijajah israel hanya memiliki tidak lebih dari 10 penghafal al-Qur’an menjadi tanah penghasil hafizh al-Qur’an terbesar di dunia. Prosesnya tidak sebentar. Hasilnya?

Sekarang, mereka dengan keterbatasannya secara lahiriyah, menjadi satu-satunya negara yang berani menentang Israel secara frontal. Terus menerus dan terang-terangan, bahkan mengalahkan mereka, dimana negara superpower saja tidak berani mendikte Israel. It’s the real khilafah, bro!

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.