Drama Hasil Seleksi

Beberapa bulan setelah melaksanakan seleksi, tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, pengumuman mengenai lulus atau tidaknya aku di seleksi yang lalu.

Oh iya, ada yang belum kusampaikan. Sebelum tes itu, aku belum tau secara detail biaya yang diperlukan untuk bisa belajar ke Al-Azhar. Setelah ku cek, ternyata masih ada kurang. Aku pun bikin tabungan mendadak. Di sini letak kelalaianku sih. Ketika mepet baru mulai nabung. Sedangkan di bulan-bulan sebelumnya, aku malah leha-leha dan pakai uang bukan untuk hal yang penting. Maklum, baru pertama kali membiayai pendidikanku pakai budget sendiri.

Di kemudian hari, aku jadi sadar bahwa soal biaya pendidikan itu bahkan harus mulai ditabung sejak lama. Dan termasuk diantara yang harus diprioritaskan. Sekarang ini, bahkan aku udah mulai untuk investasi dana pendidikan untuk anak-anakku yang bahkan belum nongol ke dunia. Hehe. Dengan segala dana yang ada, setidaknya perlu ada dana yang ku sisihkan, masing-masing untuk pendidikan, pensiun, darurat, dan hura-hura. Dengan perbandingan 4:3:2:1.

Balik lagi ke ceritaku.

Plot Twist 1

Tibalah tanggal 1 Juli 2018, yang disebut doktor pengetesku sebagai tanggal pengumuman seleksi.

Pagi hari, aku langsung cek di web Diktis. Ternyata belum keluar. Kupikir, ini mungkin masih terlalu pagi. Nanti siang cek lagi deh.

Siang hari, aku cek ulang. Ternyata belum keluar juga.

Begitu pula di sore dan malam hari tanggal 1 Juli itu. Berarti molor. Fix.

Kondisinya ketika itu, kolom komentar di web Diktis sudah ramai dengan jeritan peserta tes yang penasaran dengan hasil tesnya. Hehe.

Tanggal 2 dan 3 masih sama. Tentu semakin ramai aja jeritan-jeritan itu.

Tanggal 4 Juli 2018. Sore hari. Aku cek, ternyata dokumen pengumuman itu sudah keluar. Aku dengan penuh keyakinan segera download dan panggil istriku untuk nge-cek bareng namaku. Ketika itu, yang di pikiranku itu udah bukan lagi keterima atau nggak. Tapi dapat beasiswa apa nggak. Hehe.

Aku cek satu per satu dari atas. Kolom peserta penerima beasiswa. Namaku tidak ada. “Yah, berarti dapetnya yang bukan beasiswa kali, dek”, kataku ke istriku.

Karena jumlah yang diterima itu ribuan, aku nggak pakai cara manual, dong. Langsung aja search namaku.

“Hammad”

Hasilnya nggak ada.

Degg…

Aku coba ganti,

“Rosyadi”

Masih nggak ada juga.

“Hammad Rosyadi”

Tidak ada.


Aku bengong.

Bingung.

What!!??? Aku yakin banget bahwa aku cuma salah di 7 nomor di soal tes itu! Tes wawancaraku juga bagus-bagus aja kok. Aku yakin aku yang paling bagus diantara 5 orang yang dites waktu itu!?”, kataku dalam hati. Nggak percaya dengan hasil itu.


“Maaf ya, dek.. Mas Hammad nggak lulus nih.”

Aku linglung ketika itu. Sampai sekarang pun nggak begitu inget apa yang disampaikan istriku. Intinya dia menenangkanku.


Plot Twist 2

Hari demi hari berlalu. Sesekali aku coba cek ulang dokumen pengumuman itu. Tetap sama. Namaku tak ada di sana.

Tapi untung saat itu aku agak waras. Aku sadar bahwa nggak boleh galau lama-lama.

Jadi, saat itu kemudian aku memutuskan untuk lebih fokus mengembangkan bisnisku. Pakai uang yang aku alokasikan untuk ke Mesir tadi.

Aku tertarik untuk beli salah satu course online, harganya 5 jutaan. Aku konsultasi ke mas Vatih. Dia kurang merekomendasikan, sih. Tapi aku ngotot karena menurutku, barangkali ada insight baru dari course ini yang akan berguna dengan metode yang diajarkan mas Vatih. Akhirnya beliau mengizinkan.

Setelah kubeli, ternyata isinya kurang memuaskan. 70% materinya udah kami ketahui. 30% insight baru. Tapi baru beberapa pekan kubeli, ternyata sudah nggak applycable.

Aku tertarik lagi, ada course online, harganya 2,5 juta. Kurang lebih sama ceritanya dengan yang di atas. Sebetulnya yang ini masih bisa diterapkan sih. Tapi ini nggak gue banget. Soalnya modelnya menuntut kita untuk kerja terus-terusan. Padahal kan manhaj yang aku mau terapin itu lebih ke membuat sebanyak-banyaknya passive income. Jadi bisa disambi dengan belajar, misalnya.

Kemudian aku juga beli salah satu tools pendukung bisnis yang sedang kujalani sekarang. Harganya 1 juta. Sayangnya aku ketipu di situ. Ini the real ketipu sih. Udah transfer, lalu tak ada wujudnya. Dan aku diblokir. Ketipu lah pokoknya.

Parah, ya. Niatnya mau supaya dana pendidikanku itu tidak sia-sia, ternyata malah begini banget. Tapi, dari itu semua, ya tetep ada pelajaran yang bisa diambil sih. Misalnya, lebih mendengar yang udah berpengalaman. Udah tau masih newbie, malah ngotot. Hehe. Tapi yang lebih parahnya lagi, itu semua terjadi kurang dari 3 minggu. Betapa bodohnya aku.

Plot Twist 3

Tanggal 24 Juli 2018. Sore hari.

Aku lagi main game bola, ketika temanku, Afief, mengirim sebuah Direct Message ke akunku. Karena aku dan istriku saling login akun di gadget masing-masing, istriku yang nge-cek lebih dulu.

Afief ketika itu ternyata memberi kabar, bahwa ada pengumuman hasil seleksi lagi di web-nya Diktis. Istriku yang ketika itu baca langsung buka web Diktis dan download dokumen pengumumannya. Aku masih nge-game.

Tiba-tiba ada suara, “Mas Hammaaad.. Mas Hammad lulus..!”

“Ha? Lulus apaan?”, jawabku acuh sambil tetep nge-game.

Lalu dia menjelaskan mulai dari DM dari Afief, sampai akhirnya dia menemukan namaku termasuk diantara peserta penerima Beasiswa Alokasi Gontor untuk ke Al-Azhar, Mesir.

Bersambung.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.