Keluarnya Nabi Yusuf dari Penjara; Hikmah dan Teguran

Bagi orang yang menghafal Qur’an sepertiku, ilmu tafsir ibarat micin yang perannya dalam menambah kelezatan suatu masakan sangat signifikan.

Meski dulu, ketika menghafal, aku juga menghafalkan artinya (yang sebetulnya juga tafsir versi Kemenag), ketika mendengar atau membaca penafsiran ulama-ulama terhadap suatu ayat, aku terkadang baru tersadar bahwa ada mutiara yang begitu indah dibalik ayat yang selama ini hanya kupamahi kulitnya saja.

Kamis, 5 September 2019, kemarin, sebelum zhuhur, aku berangkat ke Masjid Al-Azhar, menghadiri kajian rutin Tafsir Jalalain yang diampu oleh Syaikh Hisyam Kamil. Sejujurnya, itulah talaqqi pertamaku dalam kajian tafsir di Mesir ini.

Alasan klasik. Sebelumnya aku tinggal cukup jauh dari daerah Darrasah dan masih disibukkan dengan kelas bahasa, yang menurutku tidak kalah penting juga. Karena bahasa adalah dasar dari ilmu yang ingin aku ambil dari para syaikh yang menggunakan bahasa Arab dalam penyampaiannya.

Dalam kajian tersebut, ternyata ayat yang dibahas sudah cukup jauh, yakni surat Yusuf –alayhissalam- ayat 39. Tapi di sini, aku ingin membahas mutiara-mutiara yang disampaikan Syaikh Hisyam Kamil sejak ayat 41.

Di ayat 41, Nabi Yusuf menjelaskan, berdasarkan mimpi yang dilihat dua kawannya, bahwa salah seorang dari dua kawannya di dalam penjara akan kembali menjadi pelayan (pembawa anggur peras/khamr) di istana raja, karena tidak lama lagi ia akan terbukti bersalah. Sedangkan satu kawannya lagi, akan dihukum mati karena memang terbukti bersalah.

Singkat cerita, Nabi Yusuf ingin agar si kawan pertama menyampaikan kepada raja bahwa di penjara ada seseorang (yaitu Nabi Yusuf sendiri) yang dipenjara secara zhalim.

Namun, di kemudian hari, setelah terbukti benar takwilan mimpi dari Nabi Yusuf, ternyata selepas kawan pertama ini keluar dari penjara, ia dilupakan setan untuk menyampaikan titipan pesan dari Nabi Yusuf ini kepada raja. Ini membuat Nabi Yusuf harus bersabar lagi di dalam penjara hingga beberapa tahun lamanya.

Tiga paragraf singkat di atas paragraf ini adalah makna ‘kulit’ dari ayat 41-42. Mari simak penjelasan dari Syaikh Hisyam Kamil terhadap dua ayat tersebut dan beberapa ayat setelahnya.

– – –

Setelah Nabi Yusuf menjelaskan perihal takwil mimpi dari keduanya, beliau mengatakan, “Masalah yang kalian tanyakan sudah terjawab.”

Di sini menunjukkan, hakikatnya Nabi Yusuf hanya menakwilkan mimpi melalui perkataan yang disampaikan kepada beliau, bukannya beliau mengetahui hal yang ghaib (yang akan terjadi di masa depan).

Seandainya kedua kawan tadi berbohong (misalnya, sebetulnya mereka tidak bermimpi seperti itu) terhadap Nabi Yusuf, maka Nabi Yusuf tetap akan menjawab takwilan apa adanya.

Oleh karena itu, di ayat berikutnya, Al-Qur’an menggunakan kata ‘duga’ pada kalimat “Lalu Yusuf pun berkata kepada orang yang ia duga akan selamat …” Di Tafsir Jalalain disebutkan bahwa ظن bermakna أيقن (yakin). Akan tetapi sebetulnya yang lebih tepat adalah tetap bermakna menduga.

Namun, ternyata, meskipun telah dititipi pesan, si kawan ini lupa. Al-Qur’an menyebutkan bahwa sebab ia lupa karena ulah setan. Karena tidak kunjung disampaikan kepada raja, maka Nabi Yusuf harus tinggal lagi di penjara sekitar 3 tahun (menurut pendapat yang paling kuat).

Di sini, setan dijadikan sebab lupa, sekalipun pada hakikatnya, Allah sendiri yang berkehendak mengakhirkan keluarnya Nabi Yusuf dari penjara. Al-Qur’an di sini hanya menyebutkan sebab saja, sebagai penghormatan terhadap Zat-Nya yang Mulia, sekalipun sebetulnya pencipta sebab itu Allah juga.

Pengakhiran keluarnya Nabi Yusuf ini bukan tanpa hikmah. Allah sengaja ingin mengakhirkan Nabi Yusuf di momen yang tepat, yaitu ketika kelak Negeri Mesir menghadapi masalah ekonomi, yang di situ Nabi Yusuf bisa tampil dan memiliki peran penting.

Terkadang, hal yang kita anggap jelek, sial, buruk, ternyata ada kehendak Allah yang lebih indah dibalik itu semua. Kebaikan itu, jika Allah berkehendak, akan Dia segerakan, atau jika Allah berkehendak, akan Dia akhirkan.

Itu tadi versi Syaikh Hisyam Kamil. Qadarullah, beberapa saat yang lalu, ketika sedang berselancar di Facebook, aku melihat video ceramah Kyai Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) yang menyinggung cerita Nabi Yusuf di penjara ini juga.

Kata beliau, salah satu sebab dilupakannya si kawan tadi adalah karena Allah tidak ingin Nabi Yusuf bergantung kepada pertolongan manusia. Karena, hal-hal yang mungkin biasa bagi orang umum, bisa dihitung sebagai maksiat jika dilakukan oleh orang-orang shaleh, sebagaimana lupanya Nabi Adam ketika memakan buah pohon terlarang.

Allah ingin memberikan jalan sendiri kepada Nabi Yusuf dengan cara-Nya, yaitu dengan dibuat bingung seluruh kerajaan dengan mimpi sang raja, dan tidak ada yang bisa men-takwil kecuali Nabi Yusuf, dengan izin-Nya.

– – –

Kembali ke surat Yusuf.

Di ayat berikutnya, disebutkan mengenai mimpi sang raja, ketidaktahuan orang-orang di sekitarnya terhadap takwil mimpi dan menganggap itu mimpi kosong, serta ingatnya sang Kawan terhadap Nabi Yusuf.

Setelah sang Kawan datang, menyampaikan mimpi raja, lalu membawa informasi takwil mimpi itu kepada raja dan para menterinya, raja ingin agar Nabi Yusuf dibawa ke istana. Ia pun mengirim seorang utusan.

Namun, saat utusan itu tiba di penjara Nabi Yusuf, ternyata ia enggan keluar dari penjara. Nabi Yusuf tidak ingin ia keluar dari penjara lantaran semata-mata kebaikan dari raja. Ia ingin keluar dari penjara karena memang terbukti tidak bersalah dari tuduhan bahwa ia ingin menggoda salah seorang istri pejabat Mesir.

Nabi Yusuf pun meminta raja agar menyelesaikan dulu ‘konspirasi’ yang menimpa dirinya, agar ia bebas dengan kebebasan yang bersih.

Maka raja pun menyidang ulang kasus ini dengan menghadirkan saksi-saksi yaitu ‘ibu-ibu yang memotong jemarinya’ yang tahu mengenai makar seorang istri pejabat ini. Menghadapi kesaksian banyak orang, akhirnya wanita yang disebut sebagian mufassirin bernama Zulaikha ini mengakui bahwa Nabi Yusuf adalah pihak yang benar.

Maka, bersihlah kembali nama Nabi Yusuf.

Namun, beliau (menurut sebagian mufassirin) tetap mengakui (sebagai bentuk ke-tawadhu-an beliau) bahwa beliau bukan orang yang terbebas dari kesalahan. Beliau mengakui bahwa nafsu itu banyak mengajak kepada perbuatan-perbuatan jelek, kecuali nafsu yang dirahmati oleh Allah.

Di akhir kalam, beliau menjelaskan bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Penyayang. Barangsiapa yang berbuat kesalahan, lalu mengakui dan bertaubat kepada-Nya, akan ia ampuni. Sesungguhnya, rahmat-Nya lebih luas dari apapun, bagi mereka yang mau bertaubat.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.