Imam Shalat Lupa, What Should We Do?

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Begitu kira-kira makna dari satu ungkapan ternama yang pasti udah pernah kamu denger. Lupa. terkadang bisa menjadi nikmat, terkadang juga menjadi cobaan buat kamu.

Gimana bisa menjadi nikmat, tapi bisa juga jadi cobaan?

Begini. Setiap orang pasti punya kenangan yang buruk, entah itu kenangan yang menyedihkan, menyeramkan, menegangkan, dan lain sebagainya. Bayangkan kalau kamu nggak bisa melupakan hal itu! Pasti hidup dirundung trauma, khawatir, dan sedih nggak abis-abis.

Dalam kondisi seperti ini, pastinya bisa melupakan hal-hal tadi adalah nikmat yang bakal bikin hati kamu jadi tenang, jadi kamu bisa menatap masa depan dengan lebih mantap. Nggak parno dengan pengalaman buruk yang pernah kamu lalui.

Di sisi lain, lupa juga bisa jadi cobaan, lho. Semisal, ketika kamu punya janji dengan orang penting, terus kamu lupa terhadap janji tersebut. Apalagi buat penghafal Qur’an. Ketika kamu (me)lupa(kan) hafalan-hafalan kamu, mau nggak mau kamu harus mulai memuraja’ah lagi hafalan kamu lagi.

Intinya, baik itu lupa yang berupa nikmat maupun cobaan, keduanya sama-sama fitrah yang Allah beri kepada setiap manusia, termasuk kepada para Nabi. Kaya waktu dulu Nabi lupa bilang “in syaa Allah” ketika menjawab permintaan orang Yahudi tentang kisah Ash-habul Kahfi.

Nah, tapi di pembahasan kali ini, aku cuma mau membahas soal apa yang harus kita lakuin ketika imam shalat kita lupa di dalam shalatnya. Baik itu lupa dalam bacaan, dalam gerakan sunnah ab’adl, ataupun rukun. Soalnya, sikap ini akan memengaruhi keabsahan shalat kita. So, nggak bisa dianggap enteng, ya.

Ketika Imam Lupa saat Membaca Al-Qur’an

Pertama, aku mau bahas what should we do (apa yang mesti kita lakuin) kalau imam lupa atau salah saat membaca ayat-ayat Qur’an selepas surat al-Fatihah. Kalau al-Fatihah sendiri kayaknya jarang ada yang lupa, ya.

Sebenernya nggak aneh-aneh sih. Kalau kamu hapal, ya tinggal baca aja ayat yang bener. Tapi ini yang penting: niat.

Waktu kamu baca ayat yang bener, pastikan niat kamu itu cuma tilawah alias baca Qur’an biasa. Tanpa niat memberi tahu, walaupun emang realitanya bacaan kamu bakal memberi informasi ke imam mengenai ayat yang seharusnya dibaca.

Kenapa nggak boleh niat memberi tahu? Karena di dalam shalat, kita dilarang berkomunikasi dengan siapapun menggunakan lisan kita. Dan di sini, niat berperan penting. Semisal kita niatnya ngasih tau orang, walaupun pakai bahasa Arab, bahkan ayat Qur’an, ya tetep nggak boleh.

Misalkan adek kamu nanya, sedangkan kamu lagi shalat, “Kak, kapan jadinya kita ke Bogor?” Lalu kamu membaca surat al-Lail (yang artinya “Malam”) di dalam shalat kamu. Maksud kamu untuk ngasih tau ke adekmu bahwa kalian bakal berangkat nanti malem. Nah, semacam ini nggak boleh.

Jadi, selain harus nginget dengan baik ayat yang akan kamu baca waktu mau ngebenerin bacaan imam, jaga juga niat kamu waktu membacanya, ya.

***

Btw, aku pernah kejadian ngebenerin bacaan imam shalat waktu di Berastagi. Ketika itu, si imam baca surat Ali Imran. Nah, waktu baca ayat kedua, dia itu salah baca. Harusnya “mushoddiqollima bayna yadaihi wa anzalat taurota wal injil” malah dibaca “mushoddiqollima ma’akum…”

Sontak aku benerin, dong… “mushoddiqollima bayna yadaihi..”

Nah, nggak tau apa emang suaraku yang kepelanan -padahal aku berdiri di belakang dia- atau emang pendengarannya yang kurang -karena emang udah cukup sepuh-, lah si imam malah ngejawab, “hmmh?”

Lah jama’ah jadi pada ketawa.

***

Ketika Imam Lupa dalam Gerakan Sunnah Ab’adl

Kalau di dalam madzhab Syafi’i, gerakan (dan juga bacaan sih, sebenernya) di dalam shalat itu dibagi menjadi tiga; sunnah hai-ah, sunnah ab’adl, sama rukun.

Sunnah hai-ah itu gerakan dan bacaan-bacaan di dalam shalat yang sifatnya bukan rukun, semisal mengangkat tangan saat takbiratul ihram, bacaan Qur’an setelah imam baca al-Fatihah, tasbih saat ruku’ dan sujud, serta bacaan lainnya. Seandainya imam meninggalkan sunnah hai-ah, shalatnya nggak kenapa-napa dan ma’mum pun nggak harus dan nggak boleh maksa imam untuk melakukan sunnah hai-ah. Jadi, ya terserah si imam. Hehe.

Nah, kalo sunnah ab’adl itu beberapa bacaan dan gerakan yang status hukumnya sunnah, tapi lebih ditekankan untuk dikerjakan dibandingkan sunnah hai-ah di atas. Sunnah ab’adl sendiri terdiri dari;

  1. duduk tasyahud/tahiyat awal,
  2. bacaannya tahiyat awal itu sendiri,
  3. bershalawat kepada Nabi dalam tahiyat awal,
  4. qunut saat subuh dan witir di setengah akhir ramadhan,
  5. berdirinya untuk qunut tersebut,
  6. dan shalawat kepada keluarganya Nabi di tahiyat akhir.

Sebagaimana yang disebutkan di atas, saking ditekankannya, kalau sunnah-sunnah tersebut ditinggalkan, baik itu sengaja atau nggak, maka orang yang meninggalkan itu disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Kalo imam shalat kamu meninggalkan salah satu diantara enam sunnah ab’adl itu, baik sengaja atau nggak, maka sebagai ma’mum, kamu cukup bertasbih (jika kamu laki) dengan niat dzikir atau tepuk tangan (jika kamu perempuan) secukupnya. Ini pun dilakukan ketika imam belum beranjak ke rukun lainnya.

Gimana kalo udah pindah rukun? Ya ikutin aja. Soalnya, kalau kita ngotot menyelisihi imam di gerakan sunnah yang jelas (yang kalo antara imam dan ma’mum beda, keliatan banget gitu bedanya) malah bisa batal.

Contoh simpelnya, kalau seorang imam setelah sujud di rakaat kedua langsung mau berdiri, dia lupa untuk tasyahud awal, maka kamu sebagai ma’mum (kalau tau imam mau langsung berdiri) cukup lakukan hal di atas tadi. Tapi, kalau imamnya udah terlanjur berdiri, diem aja dan langsung berdiri. Kalau tetep duduk, bisa batal nanti shalat kamu.

Begitu juga bagi imam. Seorang imam harus tau, bahwa di sunnah ab’adl ini, kalau udah kelewat, nggak boleh balik ke posisi sunnah ab’adl. Hukumnya haram dan bisa membatalkan shalat kalau sudah tahu keharamannya.

Kalau Imam Shalat Lupa dalam Rukun

Bahas soal rukun, kurang apdol kalo kamu belum baca tulisanku tentang rukun-rukun shalat yang terlupakan. Di situ juga aku cantumin tujuh belas rukun yang ada dalam shalat supaya lebih nyambung di pembahasan kali ini.

Rukun shalat itu beberapa ucapan dan gerakan yang kalo nggak dilakuin shalat nggak sah. Jadi di sini penekanannya lebih dari sekedar tasbih dan sujud sahwi.

Ketika imam shalat kamu lupa untuk mengerjakan salah satu rukun shalat, maka kamu sebagai ma’mum berkewajiban mengingatkan dengan ketentuan yang udah disebutin di atas. Di sini peringatannya harus diterusin walaupun si imam udah gerak menuju rukun selanjutnya. Kalau dia ngotot nggak mau balik ke rukun yang dia lewatin, maka kamu wajib mufaroqoh dari imam ini.

Contohnya begini, imam melakukan sujud pertama setelah i’tidal. Di sujud pertamanya ini dia sujud agak lama. Bangun-bangun dia duduk di antara dua sujud, tapi dia mengira udah duduk tasyahud awal. Akhirnya setelah duduk, dia langsung berdiri. Di sini ada dua rukun yang kelewat, yaitu duduk di antara dua sujud dan sujud kedua.

Sebagai ma’mum, kita perlu mengingatkan imam akan kelalaiannya ini, dengan tetep di posisi duduk di antara dua sujud. Dan si imam harus balik di posisi yang dia tinggalkan ini tadi, yaitu duduk di antara dua sujud, sebelum sujud ke dua. Kalau imamnya nggak mau kembali, ya kamu lanjutin shalat kamu sendiri dengan niat berpisah dari imam.

Kalau imamnya mau balik ke posisi semula, maka shalat bisa dilanjutkan seperti sedia kala. Oh iya, jamaah juga disunnahkan untuk melaksanakan sujud sahwi. Meskipun yang lupa cuma imam, tapi di sujud sahwi yang dilaksanakan sebelum salam ini ma’mum juga harus ikut.

Mungkin segitu dulu sharing di hari keempat bulan Ramadhan 1440 Hijriah ini. In syaa Allah sharing lagi kapan-kapan.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.