Kumpulan Risalah Hammadiyah

Risalah 1 – Kewajiban Dakwah

Dr Bakr Zaki dalam muhadharah Ushul Dakwah tadi menjelaskan bahwa kewajiban dakwah bayan itu bukan kepada seluruh muslim. Akan tetapi dikhususkan bagi penuntut ilmu dan ahlinya. Adapun awam, yang diwajibkan hanya dakwah dengan akhlak.

Karena, kalau awam dituntut dakwah bayan, apalagi untuk mendebat pemikiran menyimpang, justru bisa membawa kepada statement yang keliru dan tidak mencerminkan agama.

Beliau pun ditanya oleh seorang pelajar dari Filipina, “Bagaimana dengan sebagian orang yang mendakwa bahwa kewajiban dakwah itu kepada seluruh muslim, dengan dalil ‘sampaikanlah dariku walau satu ayat’?”

Beliau menjawab, “Kami memahami pertanyaan ini (beliau kemudian menyebut satu kelompok -pent). Sebetulnya, penggunaan dalil demikian dalam konteks dakwah bayan kurang tepat. Karena dalam dakwah bayan (penjelasan agama), dibutuhkan bashirah.

Sebagaimana dalam firman-Nya, ‘Katakanlah: Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah dengan bashirah (yaitu keyakinan dan penjelasan)…’, oleh karena itu, orang awam (dalam ilmu agama) yang tidak memiliki takhasus dalam ilmu agama dan berdakwah, semestinya tidak mengambil posisi dakwah bayan ini, akan tetapi wajib baginya dakwah dengan akhlak.”

Lalu beliau bercerita pertemuannya dengan kelompok yang beliau sebut tadi.

Beliau pernah ditawari agar keluarganya dibimbing oleh mereka. Ketika ditanya soal pekerjaannya, yang mengajak mengaku sebagai tukang kayu. Sedangkan pimpinannya adalah ahli kimia.

Setelah beliau berbincang dengan mereka, beliau menjelaskan bahwa dakwahnya tukang kayu (atau pebisnis secara umum) adalah dengan mengambil anak-anak yatim dan faqir, lantas mengajari mereka cara bekerja hingga akhirnya bisa memiliki masa depan yang cerah.

Begitu pula ahli kimia itu, hendaknya mendidik, jika bisa privat, anak-anak kaum muslimin, sehingga mereka cerdas dan bisa mengambil posisi penting di dunia ilmu kimia yang kebanyakan diisi oleh non-muslim. Inilah dakwah bagi mereka.

Lalu beliau menutup, “Adapun hadits tadi, itu disampaikan Nabi saat masih awal-awal Islam (yang kala itu kebanyakan ayatnya berkaitan dengan aqidah, belum sekompleks masalah sekarang).”

Risalah 2 – Dakwah Menghadapi Problema Lapangan

Ramadhan tahun 2016, aku diajak kang @mamun_salman untuk i’tikaf. Ada beberapa opsi kala itu di beberapa desa pelosok di Kabupaten Subang.

Dalam salah satu survei di siang hari, kami menelusuri salah satu desa di pegunungan yang cukup jauh dari keramaian kota. Jalanannya pun kurang bagus.

Lika-liku jalan dan tanjakannya khas pegunungan kami tempuh dengan perlahan. Hingga akhirnya kami mulai memasuki kampung yang dimaksud.

Di jalan menuju masjid kampung itu, kami lihat beberapa anak laki-laki memakai jubah dan anak perempuan berhijab nampak berjalan dari arah masjid membawa mushaf atau iqra. Nampaknya mereka baru selesai mengaji.

Lalu sampailah kami di masjid tersebut, shalat zhuhur, dan mulai mencari siapa yang mengurus masjid ini. Tidak sulit mencarinya, karena ada beberapa rumah yang terletak di sebelah masjid.

Singkat cerita, kami bertemu dan berbincang dengan pemuda kisaran 25-30 tahunan yang mengurus masjid ini bersama mertuanya. Pakaiannya tidak jauh beda dengan anak-anak yang mengaji tadi.

Selepas berbasa-basi, kami tabayyun tentang kabar bahwa desa tersebut adalah salah satu target misionaris.

Lalu yang menjelaskan hal ini adalah mertua pemuda itu langsung, “Itu sih sekitar tahun 90-an. Udah lama. Sekarang alhamdulillaah insyaallah aman.”

Lalu beliau bercerita lagi, “Waktu itu, banyak warga yang kurang dekat dengan agama. Ada salah seorang warga non-muslim di sini yang punya usaha jahit (kalau nggak salah). Nah banyak perempuan di sini yang bekerja di sana.

Tapi, sembari bekerja, di sana itu setiap hari disetelkan lagu-lagu rohani lewat radio. Ditambah lagi, hampir setiap minggu, ada rombongan mereka dari kota bawa sembako dan obat-obatan untuk masyarakat.

Waktu itu, mayoritas penduduk udah sampai pindah agama. Bahkan keluarga RT pun juga.

Kemudian, alhamdulillaah, di masa-masa itu ada ‘rombongan keluar’ dari Medan. Mereka keluar setahun jalan kaki dari sana, singgah setiap tiga hari dari satu masjid ke masjid lain, dan akhirnya mereka pun sampai di desa ini.

Ketika itu, saya dan dua orang warga sini akhirnya ikut mereka untuk belajar agama dasar dan cara dakwah.

Setelah itu kami kembali ke desa dan mulai mengajak tetangga satu per satu untuk kembali. Kami shilaturrahim dengan mereka setiap malam satu KK.

Setelah mau kembali, kami ajak untuk shalat dan sampaikan beberapa hal mendasar tentang agama ke mereka. Alhamdulillah sekarang keluarga RT sudah Islam lagi, tinggal suami/istrinya (aku lupa) yang belum.

Alhamdulillah di masjid ini juga setiap pekan sudah jum’atan lagi.

Oh iya, sebelum perbincangan itu, aku sempat melihat-lihat barang-barang di masjid. Aku lihat ada selembar kertas berisi tabel. Di kertas itu tertulis nama-nama pria yang sudah baligh. Di sana ada tanda centang di sebagian namanya.

Semoga Allah merahmati rombongan dari Medan tersebut. Sebab mereka, cahaya Islam kembali hidup di kampung tersebut dikala banyak orang Islam mungkin tidak peduli dengan mereka.

Risalah 3 – Kuasa Allah dalam Mewajibkan dan Menghilangkan Faktor ‘Sebab’

Salah satu sunnatullah yang ditetapkan bagi makhluk-Nya adalah ‘mengambil sebab jika ingin menggapai sesuatu’.

Maka, saat ada seseorang bertanya kepada Nabi, “Apakah dengan aku lepaskan untaku, (lalu aku tinggal), kemudian aku bertawakkal Kepada Allah (itu sudah benar?)” Dijawab oleh Nabi, “Kamu ikat dulu untamu, barulah kamu bertawakkal kepada Allah.”

Sayyidah Maryam ‘alayhassalam, di saat yang amat berat (hamil tua ditambah psikis yang terbebani juga karena takut dianggap yang tidak-tidak), Allah perintahkan untuk mengambil sebab untuk mendapatkan makanan.

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”

Secara akal, bahkan dengan 10 pria dewasa pun, dengan hanya menggoyangkan pangkal pohon kurma, tidak akan jatuh satu pun buah dari pohonnya. Tapi memang yang diminta hanyalah usaha.

Begitu pula Nabiyullah Ayyub ‘alayhissalam. Beliau diperintahkan untuk menghentakkan kakinya ke tanah dan mandi terlebih dahulu, sebelum mendapatkan kesehatan dan Allah kembalikan nikmat-nikmat yang sebelumnya diambil.

Namun, adakalanya, sunnatullah itu dibatalkan jika Dia berkehendak. Sebagaimana yang disebutkan tentang Sayyidah Maryam muda, saat datang makanan kepadanya tanpa melakukan apa-apa. “Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.”

Walhasil, semangatlah dalam mengambil sebab dengan tetap menggantungkan harapan kepada Allah.

Foto: Ramsis Square, yang hampir 24 jam selalu ramai dengan aktifitas orang-orang mengambil sebab. Di sini ada terminal dan stasiun yang mengantarkan orang-orang Kairo ke seluruh penjuru Mesir, begitu pun sebaliknya.

Risalah 4 – Kalian Adalah Firqah Tersebut

“Kalian adalah tafsir realita dari firqah yang disebut ayat ‘mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka (kaum mukminun yang berjihad) tidak pergi untuk memperdalam ilmu agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.'” Kata Dr Bakr Zaki pagi itu mengingatkan kami. Beliau adalah salah satu dosen yang menaruh perhatian lebih kepada kami, para Wafidin. Al-Azhar tidak menyebut pelajar dari luar Mesir sebagai pelajar asing atau pelajar luar negeri. Mereka menyebut kami sebagai wafid (utusan).

Dengan segala kekurangan yang ada dari segi administrasi (ini terus ada perbaikan), kampus dan masjid al-Azhar, para dosen dan masyayikhnya, sangat peduli kepada Wafidin. Proses belajar dipermudah; banyak mahasiswa yang diberi beasiswa (terutama dari negeri yang kekurangan ulama), kalau pun bayar, biayanya murah, pengajian di luar kampus melimpah ruah, penyampaian pelajaran dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, dan sebagainya.

Perbaikan demi perbaikan ini semakin banyak ketika Syaikhul Azhar Dr Ahmad Ath-Thayyib memimpin. Beliau dijuluki Abul Wafidin, ayahnya para utusan ini.

Hal ini tidak lain karena mereka memahami bahwa Wafidin adalah firqah kecil dari kaum muslimin di negerinya masing-masing yang diutus untuk belajar agama. Harapannya, setelah kembali ke negaranya, bisa berkontribusi menyebarkan pemahaman Wasathiyatul Islam (kemoderatan Islam, bukan Islam moderat) ke seluruh alam.

Setelah mendapat banyak fasilitas ini, sekarang kembali lagi ke para pelajarnya.

Apakah benar kita sudah layak disebut Wafid untuk kaum muslimin ke negeri masing-masing? Apakah keringanan dan kemudahan yang diberikan memang tepat diberi untuk kita?

Al-Azhar sudah memenuhi kewajiban mereka dalam menyediakan segala kemudahan. Ketika diminta pertanggungjawaban, mereka dapat menyampaikan hujjahnya kepada Allah. Apakah kita sudah memenuhi kewajiban kita untuk belajar?

وَإِنَّهُۥ لَذِكۡرٞ لَّكَ وَلِقَوۡمِكَۖ وَسَوۡفَ تُسۡـَٔلُونَ

Risalah 5 – Menjawab Tuduhan Terhadap Rasulullah

Dr Daud pun langsung memberi mikrofon ke Dr Ibrahim al-Hudhud, Rektor Universitas al-Azhar yang lalu. Di sini beliau menyampaikan materi dari tema pertemuan ini sendiri, yaitu tentang “Menjawab Serangan Terhadap al-Qur’an al-Karim.”

Salah satu contoh yang paling menarik yang beliau sampaikan tentang jawaban terhadap para penuduh adalah tentang kisah Nabiyullah Musa ‘alayhissalam dan tongkatnya, dimana dalam kisahnya di Qur’an, kita tahu sendiri bahwa di sana ada banyak kalimat yang digunakan bergantian. Para orientalis menuduh bahwa, “Muhammad ini nggak tahu cerita yang sebenarnya, makanya dia gonta-ganti redaksi. Di ayat satu pakai kalimat apa, di ayat lain pakai kalimat apa.”

Yang dimaksud dari banyak redaksi adalah ayat-ayat ini;

  1. QS. an-Naml ayat 10, di sini disebut bahwa Nabi Musa ketakutan dan kabur saat melihat tongkatnya berubah menjadi ular yang bergerak-gerak. Lalu Allah berfirman, “Wahai Musa! Janganlah engkau takut, sesungguhnya di hadapan-Ku, para Rasul tidak perlu takut.”
  2. QS. al-Qashash ayat 31, di sini disebut bahwa Nabi Musa ketakutan dan lari saat melihat tongkatnya berubah menjadi ular yang gesit. Lalu Allah berfirman, “Wahai Musa! Janganlah engkau takut, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman.”
  3. QS. Tha-ha ayat 21, di sini disebut bahwa Nabi Musa ditanya terlebih dahulu perihal tongkatnya, lalu beliau disuruh melempar itu dan tongkat itu berubah menjadi hayyah (ular) yang berjalan. Nabi Musa langsung diminta untuk mengambil lagi dan diminta jangan takut.
  4. QS. al-A’raf ayat 107, di sini hanya disebut tongkat itu menjadi tsu’ban (ular besar) yang nyata.
  5. QS. asy-Syu’ara ayat 45, di sini disebut bahwa tingkat itu melahap semua ular milik penyihir.

Mungkin bagi kita yang suka baca Qur’an, yang nomor 4 dan 5 itu jelas, ya, konteksnya adalah saat berhadapan dengan Firaun dan para penyihirnya. Tapi bagi orang awam, kalau dijejali tuduhan seperti ini dalam al-Qur’an bisa bingung.

Adapun 1, 2, dan 3, bahkan bagi diriku yang hafal saja kadang bingung, ini kok beda-beda, ya? Kan waktunya sama. Apalagi ayat 1 dan 2, itu cuma ujung ayatnya saja yang beda. Suka tertukar ujungnya.

Alhamdulillah di pertemuan tadi, melalui Dr Hudhud, Allah bukakan kepadaku dan para hadirin tentang perbedaan ayat-ayat di atas.

Pada penjelasan beliau, memang sengaja dibagi menjadi 5 bagian besar (aslinya lebih banyak ayat-ayat serupa). Karena memang perubahan tongkat menjadi ular itu sebetulnya bukan hanya di 1 atau 3 (jika sudah diketahui tentang kejadian Firaun dan para penyihirnya) kesempatan, tapi itu terjadi pada 5 kesempatan yang berbeda. Mari dibahas satu per satu.

Pada QS. an-Naml ayat 10, ini adalah perintah pertama dari Allah kepada Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya. Oleh karena itu, saat melihat tongkatnya tiba-tiba jadi ular dan menggeliat di tanah, beliau langsung lari tunggang langgang (disebut di dalam al-Qur’an; samasekali tidak menengok) dari ular tersebut. Oleh karena itu, di situ Allah menerangkan bahwa sesungguhnya para Rasul itu tidak perlu takut. Di sini sekaligus ada isyarat bahwa beliau akan diutus menjadi Rasul.

Pada QS al-Qashash ayat 31, ini adalah perintah kedua dari Allah untuk melempar tongkatnya. Di sini beliau masih ketakutan dan lari tanpa menengok samasekali. Lalu Allah tegaskan lagi, “Sesungguhnya Engkau termasuk orang-orang yang aman.” Maka beliau pun menjadi lebih tenang dan mantap.

Sedangkan di surat Tha-ha ayat 21, ini adalah kali ketiga Allah memerintahkan beliau untuk melempar tongkatnya. Sebelum memerintahkan lagi, Allah bertanya kepada Nabi Musa, “Itu apa yang di tanganmu?” Nabi Musa menjawab dengan pasti, “Ini tongkatku,….” Lalu Allah memerintahkan agar dilempar, dan tongkat itu pun menjadi ular biasa yang berjalan. Nabi Musa sudah tidak takut lagi pada momen ini.

Pemantapan ini adalah momen persiapan dan peneguhan dari Allah terhadap mukjizat beliau, yang pastinya bagi beliau adalah hal yang baru. Beliau bukan penyihir sebelumnya. Hanya seorang gembala yang sedang berjalan di tengah gelapnya malam bersama istri dan anaknya.

Persiapan untuk apa? Kata Allah, “Agar kami perlihatkan tanda kekuasaan Kami yang lebih besar.” Kapan itu? Di momen keempat dan kelima.

Saat baru bertemu dengan Fir’aun, beliau untuk keempat kalinya melemparkan tongkatnya dan ia berubah menjadi ular yang besar, ia lebih besar dari sebelumnya (hayyatun tas’a). Pada momen itu Fir’aun dan cecunguknya panik melihat hal itu. Langsung menuduh beliau sebagai penyihir.

Seandainya tidak ada peneguhan di momen 1,2, dan 3, kata Dr al-Hudhud, bisa-bisa Nabi Musa malah lari (dari ular) bersama Fir’aun di momen ini. Setelah itu, barulah yang terakhir saat berhadapan dengan penyihir Fir’aun, tongkat kecilnya menjadi ular yang sangat besar yang melahap semua ular halusinasi milik para penyihir itu.

Risalah 6 – Hisab

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa dihisab, maka dia akan diadzab.” Lalu Ummul Mukminin Aisyah -semoga Allah meridhai beliau- bertanya, “Tapi ada ayat yang berbunyi, ‘Mereka (orang-orang mukmin) akan dihisab dengan hisab yang ringan’ (yakni, maksudnya tidak diadzab, pent)?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam menjelaskan, “(Hisab yang ringan) itu adalah hanya ditampilkannya amal (manusia). Tapi (yang dimaksud hisab dan adzab pada hadits adalah) apabila sudah diperdebatkan dalam hisabnya, pasti dia celaka.” H.R. Bukhari.

Risalah 7 – Coba Geser Sedikit

Sebagaimana yang pernah aku post (lalu aku arsipkan), banyak perkataan teman-teman (dan diriku sendiri) yang ‘memojokkan’ Mesir sebagai Tanah Kesabaran, karena banyaknya faktor yang memaksa kita untuk sabar.

Sabar memang baik. Dengannya, kita bisa jadi pribadi yang lebih kuat batinnya dan terus mendapat pahala selagi masih menjaganya. Bahkan, dikatakan, ada orang yang mencapai derajat yang tinggi dan dianggap sebagai kekasih Allah karena terus bersabar.

Tapi ‘terlalu sabar’ bisa juga menjadikan kita lupa terhadap nikmat-nikmat dari Allah sehingga lupa juga mensyukurinya. Maksud paragraf ini, kalau kita terlalu sibuk memikirkan derita yang tiada henti, apalagi terus berkeluh kesah tentangnya, khawatir seolah kita berpikir bahwa Allah hanya sedikit memberi nikmat kepada kita. Ini untuk semua, bukan Masisir saja.

Bukankah muslim itu, selain pandai bersabar dalam susahnya, juga pandai bersyukur dalam senangnya? Hadits Nabi tentang “‘ajaban li amril mukmin” jangan dipotong, ya.

Di judul, saya mengajak kita untuk mencoba menggeser sedikit. Apanya? Cara pandang kita. Dalam melihat segala urusan di sekitar kita.

Tidakkah kita malu, kepada Nabi Nuh ‘Alayhissalam? Beliau berdakwah setiap hari kepada kaumnya selama 950 tahun, lalu tidak mendapati orang yang mengikuti beliau kecuali tidak lebih dari 10 orang, bahkan ada keluarganya yang tidak iman juga! Tapi Allah masih mendapati beliau sebagai “‘abdan syakura“, hamba yang pandai bersyukur.

Beliau pandai bersabar? Pasti! Kalau bukan karena kesabaran, beliau tidak akan kuat dakwah selama itu, dengan segala caci maki orang-orang, bahkan keluarganya sendiri. Lantas, apakah kesabaran itu membuat beliau lupa bersyukur? Tidak.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa beliau itu senantiasa ingat dan mensyukuri segala nikmat yang Allah beri. Ketika makan beliau bersyukur, ketika minum bersyukur, ketika memakai baju bersyukur, bahkan ketika diberi nikmat buang air juga bersyukur. Kata beliau (dalam makna), “Seandainya Allah berkehendak, Allah bisa saja tidak memberi itu semua.”

Seharusnya malu, jika dengan segala kemudahan dan nikmat dari Allah, masih saja ‘fokus’ untuk sabar dan lupa bersyukur.

Hidup dengan dipenuhi rasa syukur akan terasa lebih ‘manis’. Kita akan merasa Allah benar-benar sayang kepada kita. Di kala susah, apalagi di kala senang, nikmatnya terus membersamai kita.

Yuk mulai menjadi “abdan syakuro” dari sekarang. Ingat dan syukuri apa yang ada di sekitar kita. Sebelum Allah ambil nikmat-nikmat itu dari kita.

Sejelek-jelek pengingat nikmat, adalah orang yang baru sadar akan nikmat, setelah ia diambil oleh Sang Pemberi Nikmat.

Risalah 8 – Rahasia yang Dia Simpan

Dalam salah satu ceramahnya kepada Bani Israel, Nabi Musa ditanya oleh salah seorang dari mereka karena kagum dengan ilmu Nabi Musa, “Adakah yang lebih alim dari engkau, wahai Nabi Musa?”

Dijawab beliau, dengan sebatas ilmu yang beliau miliki dan kapasitasnya sebagai Nabi, “Aku tidak tahu ada yang lebih berilmu dariku.”

Singkat cerita, kemudian Allah suruh beliau (bersama muridnya, Yusa’ bin Nun) untuk menemui seorang hamba yang shalih dan berilmu, sebagian menyebut beliau sebagai Khadir/Khidir. Beliau pun minta izin ke Shalih itu untuk mengikuti beliau karena penasaran dengan ilmu yang Allah beri padanya.

Awalnya, sang Shalih menolak menerima, karena khawatir tidak bisa bersabar menerima beberapa sikapnya. Tapi Nabi Musa keukeuh untuk ikut dan menjamin bisa bersabar. Maka perjalanan pun dimulai.

Karena pertemuan mereka di dekat laut, mereka memulai dengan menumpang kapal salah seorang penduduk. Mereka diperbolehkan naik cuma-cuma karena penduduk sudah kenal kebaikan sang Shalih ini.

Tidak lama mengarungi lautan, sang Shalih tiba-tiba merusak kapal, mencopot kayu-kayunya, dan melubangi beberapa bagian kapal. Sontak hal mengagetkan bagi Nabi Musa, dan sepertinya, kita semua.

Bagaimana tidak, sedangkan ia sudah diizinkan naik cuma-cuma, bukannya ikut bantu-bantu kalau dibutuhkan, ini malah merusak kapalnya. Sang Shalih mengingatkan, “Aku bilang, kamu nggak sabar, ‘kan.” Nabi Musa pun ingat dan meminta maaf.

Setelah mendarat, mereka berjumpa dengan seorang anak kecil, lantas sang Shalih membunuhnya begitu saja. Disebutkan bahwa cara membunuhnya adalah dengan mematahkan leher si anak, membalik wajahnya ke belakang.

Tentu saja hal ini tidak bisa diterima nalar manusia, begitu pula bagi Nabi Musa. Beliau pun memprotes sikap sang Shalih. Tapi setelah diingatkan, beliau pun langsung meminta maaf karena tidak memegang kata-katanya di awal.

Setelah sampai di sebuah kampung, sebagai seorang musafir, kala itu, adalah hal yang wajar jika meminta jamuan sederhana ke penduduk setempat. Tapi para penduduk tidak ada satu pun yang menerima mereka. Tentu ini meninggalkan kesan tidak mengenakkan bagi musafir.

Tapi sikap sang Shalih yang satu ini memang beda. Beliau, saat melihat ada bangunan hampir rubuh di kampung tersebut, malah dipermak lebih bagus. Nabi Musa pun tidak tahan untuk berkomentar dan memberi saran, “Kalau mau, kamu bisa ambil upah dari mereka untuk pekerjaanmu ini.”

Kemudian sang Shalih menolak saran itu dan menegaskan bahwa ungkapan Nabi Musa itu adalah tanda perpisahan mereka. Namun, sebelum berpisah, sang Shalih menyebutkan alasan-alasan ia melakukan hal-hal yang membuat resah Nabi Musa itu.

1. Kapal yang dirusak itu adalah milik orang miskin pesisir yang bekerja sebagai nelayan di laut, sedangkan saat itu ada kapal konglomerat zhalim yang suka merampas kapal bagus.

Maka, perusakan kapal itu hakekatnya adalah penyelamatan bagi kehidupan para nelayan. Jika kapal itu dirampas, mereka bekerja dengan apa lagi?

2. Adapun anak kecil yang dibunuh itu, dia memiliki sifat-sifat yang mengisyaratkan kelak jika ia besar akan menjadi pembangkang nan kufur, padahal kedua orang tuanya baik. Maka Allah ingin mengganti dengan kematian anak itu, anak-anak lain yang lebih penurut dan shalih.

Maka matinya anak itu hakikatnya adalah nikmat dari Allah, karena dengan sebab matinya ia, Allah beri taufiq kedua orang tuanya untuk berikhtiar mendapat keturunan lagi, dan Allah beri keturunan yang lebih baik pada ikhtiar tersebut.

3. Penolakan masyarakat untuk menerima mereka sebagai tamu hakikatnya agar sang Shalih dan Nabi Musa bersegera memperbaiki bangunan milik dua anak yatim nan miskin dan tidak diperhatikan lagi, padahal, sebetulnya di dalam bangunan itu ada warisan yang banyak untuk mereka.

Lalu, dibalik renovasi tersebut, Allah ingin membalas keshalihan pendahulu anak-anak yatim itu dengan memudahkan urusan keturunannya, melalui kerasnya hati penduduk kota kepada Nabi Musa dan sang Shalih.

Dan dalam setiap ketentuannya kepada kita, baik dan buruknya di mata kita, pada hakikatnya ada kebaikan yang Dia simpan.

Risalah 9 – Tempat Transit

Dunia ini tempat singgah sementara. Ibarat bandara transit. Biasanya, di sana orang hanya makan secukupnya, istirahat secukupnya, dan sudah waspada untuk mengecek jadwal keberangkatan selanjutnya.

Kalau Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi rahimahullah mengibaratkan dunia dengan rumah kontrakan. “Jangan terlalu fokus menghias rumah kontrakan, sampai lupa mempersiapkan rumah asli. Karena yang namanya kontrakan, ada masa kita harus meninggalkannya dan kembali ke kampung yang sejati.” Lalu beliau melanjutkan, “Tidak apa-apa kalau kontrakannya dibuat bagus, tapi harus tetap menyicil untuk memperbaiki dan menghias rumah asli.”

*terjemah bebas

Suatu kali di DXB (Dubai International Airport), pernah info penerbanganku nggak kunjung muncul di layar. Akhirnya aku bolak-balik ke layar informasi, supaya bisa ke gate penerbangan tepat waktu. Oh iya, walaupun tempat transit itu (terkadang) nyaman, jangan kepedean kita akan di sana terus-terusan. Bisa-bisa kita malah diusir nantinya. “Ini memang cuma untuk istirahat sebentar, buat semua orang, bukan kamu aja!”, kata pak Satpam.

Seandainya waktu kematian ada layar informasinya, pasti semua seperti itu juga ya, bersiap-siap dan bersikap sepertiku. Tapi memang, ia Allah sembunyikan untuk melihat bagaimana amal kita dan pikiran kita ke kampung tujuan yang sebenarnya.

Seandainya kita sadar bahwa dunia ini tempat ngontrak kita, dan sadar betul rumah kita yang sebenarnya ada ‘di sana’, kita pasti nyicil dan menyisihkan apa yang kita punya untuk memperbaiki dan menghias rumah asli kita. Tapi memang, dunia Allah ciptakan melenakan, kecuali bagi orang-orang yang Dia rahmati, untuk terus menguji kita, bagaimana pikiran dan perbuatan kita di dalamnya.

Seorang Shalih pernah ditanya seorang penguasa, “Kenapa ya, aku ini kok takut mati..”, dijawab, “Karena kamu terlalu menghias duniamu dan merusak akhiratmu, makanya kamu takut pulang ke kampung halamanmu.”

Di saat sakaratul mautnya, seorang Ahli Qur’an ditangisi anaknya, lalu ia berkata, “Kamu menangisi apa sih? Aku lho, sudah khatam Qur’an puluhan ribu kali di mihrabku itu 😄.”

Risalah 10 – Setiap Nyawa

Dunia begitu melenakan kita. Menipu kita, seolah kita akan kekal di dalamnya. Lalu kita pun menikmatinya. Hingga lupa kampung yang sebenarnya.

Tiga kali firman-Nya menjelaskan, “Tiap yang bernyawa akan merasakan mati.”; di surat 3, 21, dan 29.

Di surat 29, walau kalimat awalnya umum, tapi ‘rasanya’ khusus. Karena penutup ayatnya to the point dan tidak ada penyebutan sifat, ciri, atau prestasi sang nyawa dalam hidupnya. Ditambah, ayat setelahnya menjelaskan sifat mukmin dan kenikmatan yang didapat setelah matinya. “Kemudian kepada Kami, kalian akan pulang.” Seolah ia bukan kabar gembira, tapi peringatan bagi orang-orang yang lalai dan alpa.

Di surat 21, sebelum menjelaskan ‘kepulangan’ kita, Dia mengingatkan bahwa yang kita anggap baik dan buruk di dunia, hakikatnya sama; ujian. Ujian yang menipu. Menipu yang rezekinya banyak, membuatnya seolah lebih mulia dari yang sedikit. Yang sehat, seolah lebih terjaga dari yang sakit. Yang kuat, lebih hebat dari yang lemah.

Di surat 3, Allah menyebut dunia sebagai kesenangan yang menipu. Di ayat yang sama, Ia menjelaskan hakikat sukses sejati: “yang terbebas dari neraka.” – seolah ingin menyampaikan bahwa sukses sejati adalah bisa terlepas dari tipuan dunia. Sakit, miskin, susah, dan segala kesengsaraan dunia tidak menjauhkannya dari Allah. Kaya, sehat, dan segala kesenangan juga tidak menjauhkan dari Allah, dan orang-orang yang dalam kesengsaraan.

“Kemudian ganjaran kalian akan disempurnakan pada hari kiamat.” Ia adalah kabar gembira, atas segala jerih payah ‘kalian’ di dunia yang penuh dengan ujian. Nanti, ada hari dimana apa-apa yang kamu upayakan ini akan dibalas.


Bagi sebagian orang, pulang kampung itu hal yang ditunggu. Bagi lainnya, justru hal yang menakutkan. “Takut banyak tuntutan dari orang kampung,” katanya. Kematian adalah kepulangan yang pasti. Tidak akan ada yang bisa menghindar darinya, bagaimana juga ia berusaha ‘mengisolasi diri’. Yang tidak mati di jalan, ia mati di rumah. Yang ditulis mati muda, tak akan lewat masanya, walau sedetik jua.

Beruntungnya… Mereka yang ketika pulang, dalam keadaan bahagia. Membawa oleh-oleh yang banyak, perjalanannya menyenangkan, dan disambut keluarga di kampung halaman.

Sedihnya… Mereka yang pulang dalam keadaan takut. Takut terungkap, bahwa perjalanannya hanya kesia-siaan. Tidak sesuai harapan. Ia dihinakan di kampungnya sendiri.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.