Cerpen: Pergi (1)

“Kriiiiingg..”, bel tanda masuk kelas terdengar pelan dari luar masjid. Aku bergegas lari menuju lantai puncak di dalam menara. Setibaku di kelas, langsung kududuki kursiku. Di pojok kelas bagian depan. Dekat dengan papan tulis.

Untungnya, Ustadz Faisal, guru kelasku, masih sedang membereskan perlengkapan mengajarnya. Setidaknya, aku jadi memiliki sedikit untuk beristirahat sebelum memulai pelajaran. Beginilah resiko jika terlambat berangkat.

Hari ini, aku akan belajar seputar kaidah cara menulis surat pribadi. Ustadz Faisal memberitahu kami akan hal ini kemarin. Meski tidak banyak yang berbeda dengan cara penulisan surat pribadi dalam bahasa Indonesia, tapi aku tetap antusias belajar mempraktekkan beberapa kosa kata baru yang aku dapatkan beberapa hari ini.


“Kring kriiiing..”, bel berbunyi dua kali. Itu artinya sudah saatnya aku dan teman-teman meninggalkan kursus ini.

“Rul..”, bisik Zen sambil mencolek pundakku, “Tadi kata Ustadz Faisal PR kita hari ini apa? Aku kurang jelas dengernya.. Hehehe….” pungkasnya, sambil membereskan alat tulisnya.

“Ini.. Tadi kita disuruh bikin surat untuk keluarga kita di Indonesia.. Ngabarin sekilas tentang pengalaman belajar kita di sini…” jawabku sambil kutunjukkan catatanku.

Beginilah kegiatan belajar bahasaku sehari-hari. Empat jam belajar di kursus bahasa. Setiap hari selalu ada PR, entah itu sedikit ataupun banyak. Jujur, sebetulnya aku pun terkadang merasa berat. Kerap terlintas di pikiranku, “Udah belajar lama di sekolah, dapet PR banyak gini lagi.. Hhhh..”

Tapi, ada saja nasihat-nasihat dari Ustadz Faisal yang kembali lagi menghidupkan semangat belajar bahasa Arabku. Ada satu pesan yang cukup membekas di benakku dan selalu ter-ngiang begitu aku merasa malas.

“Kamu datang jauh-jauh ke Mesir; meninggalkan negeri dan keluarga yang kamu cintai, bukankah memang untuk belajar? Seharusnya, kamu justru merasa kurang, sangat kurang, dengan apa yang kamu pelajari di sini.

Dalam sehari, kamu ada 24 jam. Seperenamnya kamu habiskan di kursus. Katakanlah satu jam untuk mengerjakan PR. Kamu masih ada waktu 19 jam lagi yang belum terjadwalkan, selain untuk makan dan tidur.

Ingatlah, bahwa waktu yang tersisa itu, jika tidak kamu alokasikan untuk hal-hal positif, dengan sendirinya, waktu-waktu tersebut akan terisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Waktumu tidak akan kembali walau satu detik!”

Ya, walau bisa dibilang nasihat itu cukup panjang, tapi memang benar-benar langsung terpatri dalam jiwa. Itu juga yang membuatku sebisa mungkin tidak absen dari kursus bahasa Arab ini, walaupun sehari-hari banyak teman-teman yang enggan hadir–karena tidak ada absen–atau sebagian materinya pernah kupelajari di Indonesia.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.