Markaz Lughah Juni-Juli 2019

Setelah dua bulan liburan di Indonesia, 15 Juni lalu aku kembali lagi ke Mesir, melanjutkan kegiatan belajar di Markaz Lughah (Pusat Bahasa) yang jadi syarat bagi para mahasiswa non-Mesir melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar.

Hari Pertama Masuk

Aku baru mulai masuk kembali ke Markaz Lughah keesokan harinya, Ahad 16 Juni 2019. Di kelas yang baru, bersama teman-teman baru. Sebetulnya, hari pertama kegiatan belajar mengajar (KBM) di sini sudah dimulai sejak sepekan sebelumnya. Jadi, aku telat sepekan.

“Selama seminggu kemarin, ada absen ngga, akhi?”, tanyaku ke teman-teman.

“Jangankan absen. Gurunya aja ngga jelas, kita ini. Sehari belajar sama kelas lain, kadang ada guru yang ke sini, besoknya ganti lagi. Ngga jelas, lah pokoknya..” kata seseorang di kelasku.

“Untung aja..”, kataku dalam hati, “soalnya, kalo diabsen, bisa-bisa auto nggak naik tingkat ini..”

Nggak berselang lama, ada seseorang dengan jempol kiri diperban datang ke kelas setelah seorang teman kami dari Afghanistan mengadu ke kantor guru untuk meminta guru kelas.

Lalu ia memperkenalkan dirinya ke murid-murid dan meminta maaf karena ia telat seminggu mengajar. Karena sakit. Jempol kiri. Haha. Padahal nulisnya pake tangan kanan.

Singkat cerita, ketika waktu istirahat datang, beberapa teman beranjak pulang. “Bosen dan panas,” kata mereka.

Aku masih berusaha bertahan di kelas sampai kelas berakhir pukul 11-an. Hanya 3 jam, sejak pukul 8 pagi.

Kelas Percepatan

Aku merasa terlalu sayang dengan waktu yang ada. Di satu sisi, ada peluang kelas percepatan yang baru dibuka setelah liburan kemarin. Aku cari-cari informasi untuk bisa mengikuti kelas ini. Tapi, ternyata biayanya 2x lipat dan ada broadcast yang beredar menyebutkan kesempatan mengikuti kelas percepatan sudah ditutup.

Aku tanya ke teman kamarku, Afief, mengenai kelas percepatan ini. Ia menyebutkan bahwa kelas percepatan ini layak untuk diikuti. Produktifitas meningkat, uang transport dan makan juga hitungannya lebih hemat, karena dalam sehari di kelas ini belajarnya 6 jam.

Ia juga memberitahuku bahwa ada kawan yang sama-sama kami kenal, Shafwan Ubaydillah, yang juga baru mendaftar ke kelas percepatan. Artinya broadcast itu tidak benar.

Setelah bermusyawarah dengan istriku, aku langsung mengontak Shafwan untuk mengonfirmasi kesempatan itu. Dia membenarkan bahwa sebetulnya masih bisa, mumpung pelajaran baru berjalan sepekan.

Keesokan harinya, aku langsung menuju kantor Markaz Lughah untuk mendaftarkan diri ke kelas percepatan. Tentu saja sekalian membayar biaya tambahan. Aku dimasukkan di kelas siang, yang mana pelajaran dimulai pukul 13.00-19.00.

Jangan dibayangkan pukul 19.00 di sini sama dengan Indonesia, ya. Karena masih musim panas, jam 19.00 ini baru masuk adzan maghrib. Lain lagi kalau musim dingin. Jam 16.45 udah maghrib.

Aku mulai masuk di kelas percepatan ini hari Selasa, 18 Juni. Dan di hari pertama itu, aku telat sekitar 15 menitan. Kelas sudah berjubel menyisakan 2 bangku saja. Di ujung belakang.

Kelas yang aslinya berkapasitas kurang lebih 60 orang itu, tercatat memiliki hampir 80 siswa. Wajar saja, hukum rimba siapa cepat dia dapat berlaku di sini. Akhirnya, orang-orang yang telat setelahku, ada sebagian yang duduk di lantai, ada yang bawa kursi dari kelas lain.

Aku yang punya minus di mata ini, cuma bisa mencatat pelajaran dari buku teman sebelahku, atau dari foto yang dikirim ke grup WhatsApp oleh teman-teman, yang kadang kualitasnya juga kurang baik.

Untuk keterangan dari guru, alhamdulillah cukup terdengar, karena suara beliau cukup keras. Bisa dibilang, aku dapat guru yang cukup profesional dengan pekerjaannya. Karena, ada beberapa guru yang rada males untuk ngomong kenceng. Fyuh.

Waktu shalat ‘Ashar tiba, kami beristirahat sekaligus shalat.

Ketika kembali ke kelas, aku cukup kaget karena kelas kehilangan 2/3 penduduknya. Hahaha. Alasannya kaya teman-temanku di atas tadi. Akhirnya aku merangsek maju ke depan. Baris ketiga, kalau nggak salah.

Murid yang Bawel

Sejak di posisi ujung tadi, aku berani mengaku bahwa aku adalah murid yang cukup bawel bertanya. Setiap kali guruku menjelaskan, beliau akan bertanya, “Ada pertanyaan?”, lalu kelas menjadi sangat hening. Dan aku pun tampil memecah keheningan itu dengan pertanyaan-pertanyaanku, dari sekedar yang remeh, sampai kadang dipuji sebagai “Pertanyaan yang seharusnya kamu tanyakan saja ke Imam Sibawayh (salah seorang pakar Nahwu paling terkemuka).”

Pasca istirahat dan aku punya posisi yang lebih dekat dengan guru, aku jadi lebih interaktif (baca: bawel) lagi. Ketika guru memberi kesempatan bertanya, aku selalu bertanya. Ketika beliau bertanya, aku selalu berusaha menjawab, sekalipun terkadang salah menjawab juga. Ketika menawarkan “Siapa yang mau membaca (teks bacaan)?”, aku mengangkat tangan, sampai beliau melarang aku membaca.

Beliau bilang, beliau senang dengan murid yang aktif bertanya dan menjawab. Murid yang berani berusaha menjawab dan berani mencoba. Seperti aku ini. Hehe.

Ketika beliau memberi tugas untuk kami, aku termasuk diantara yang awal menyetorkan jawaban untuk dinilai. Selepas beliau nilai, aku ditanya, “Namamu siapa?”, aku jawab, “Hammad, ya Syaikh”, lalu aku bertanya balik, “Kalau antum, namanya siapa?”, “Namaku Nabil. Nabil Mushtafa”.

Selepas perkenalan dengan ustadz Nabil itu, aku menjadi lebih semangat belajar lagi. Beliau juga selalu memanggilku dengan panggilan “Yaa ustadz Hammad.. Hammad bin Abi Sulaiman“, sampai-sampai teman-temanku mengira bahwa nama ayahku betul-betul Sulaiman atau Abi Sulaiman.

Selama di kelas, beliau selalu memotivasi murid-muridnya untuk giat menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Kembali lagi soal bawel. Setiap kali ustadz Nabil menjelaskan sesuatu dan aku bisa pahami penjelasan beliau, aku selalu menimpali dengan kalimat “Tamaam.. (Okee, I see)”, kadang pelan, kadang sedikit keras. Setiap kali aku bilang begitu, teman-teman selalu nengok ke arahku. Agak canggung sih. Tapi aku begitu terus sampai sekarang juga. Haha.

Awalnya mereka wajah mereka ketika melihatku seolah berkata, “Eh, ngapain si lu begitu,” haha. Tapi, kelamaan, justru mereka senyum dan ketawa ketika aku bilang begitu. Ini sebetulnya bawaan dari kelasku sebelum liburan 2 bulan yang lalu. Soalnya, guru di kelasku yang lama selalu nanya, “Tamaam?” terus kami jawab, “Tamaam..

Hari-hari berlalu. Dan seperti biasa, tiada hari tanpa pertanyaan dan terkadang ada diskusi antara aku dan ustadz Nabil dalam suatu masalah, karena ada beberapa hal yang pernah aku pelajari ketika di Indonesia.

Alhamdulillah, beliau selalu sabar menghadapi setiap pertanyaan, protes, atau terkadang koreksi yang aku berikan terhadap beberapa catatan/bacaan beliau.

Beliau pernah bilang, “Alhamdulillah, saya ini termasuk orang Arab yang masih bisa sabar dan bisa mengendalikan diri.. Nggak semua guru di Markaz ini penyabar, lho. Barangkali, kalau mereka punya murid kaya Hammad ini, mereka bakal bilang, ‘Au dah.. Lu tanya sendiri aja sono sama Imam Sibawayh nanti di hari kiamat..’, hahaha..”

Ujian

Setelah 2 pekan belajar, kami menjalani ujian tengah tingkat. Singkat cerita, karena aku kurang mengulang pelajaran, aku hanya dapat nilai 17 dari 20 (nilai sempurna) atau sekitar 85 kalau di sistem penilaian kita di Indonesia.

Lalu aku disindir oleh ustadz Nabil.

“Ada murid di sini, yang kalau nanya, nggak akan ada murid lain yang bertanya seperti pertanyaan dia. Tapi ternyata dia salah di soal-soal yang remeh,” kata beliau sambil jelas-jelas ngeliatin aku, wkwk, “Ketika kalian punya wawasan yang luas, itu bagus. Tapi, kalian juga harus tetap mempelajari dan mengulang materi yang akan diujikan. Bagaimanapun, nilai itu juga punya pengaruh bagi wibawa ahli ilmu di sebagian masyarakat.”

Aduuh.. Aku nyesel banget kurang serius ngulang pelajarannya. Malah nonton film Omar, padahal pengen ujian. Hadeuh. Mana dibandingin pula sama murid lain yang bisa jawab soal-soal dengan tepat.

Setelah itu, pokoknya aku berazam untuk ningkatin keuletan, ketelitian, dan kesabaran waktu belajar dan ujian akhir yang masih 2 minggu.

Singkat cerita, setelah ujian akhir seminggu yang lalu (hari ini tanggal 13 Juli 2019), aku diberi tahu nilai ujianku, bahwa nilaiku mumtaz. Dan beliau nyebut namaku di depan teman-teman dengan nilaiku itu. Hehe. Bagiku, itu cukup untuk membalas sindiran beliau di depan teman-teman pasca ujian tengah tingkat itu. Alhamdulillah.

Tapi, emang ketika belajar dengan beliau, hasil ujian ini terlalu kecil kalau dibandingkan nilai dan wawasan yang beliau bagikan setiap harinya. Kata teman-teman, memang beliau ini salah satu guru terbaik di Markaz. Alhamdulillah ‘ala hadzihin ni’mah.

Oh iya, setelah beberapa waktu pasca perkenalan itu, aku juga baru inget, bahwa beliau ini juga yang ngetes aku ketika seleksi penyesuaian tingkat di Markaz Lughah ini. Tapi, mungkin beliau sudah lupa. Hehe.

2 pemikiran pada “Markaz Lughah Juni-Juli 2019”

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.