Masisir Pemula

Masisir pemula, bukanlah apa-apa, melainkan hanyalah “gelar” yang kini kusandang. Masisir adalah akronim dari Mahasiswa Indonesia di Mesir. Pemula, ya pemula. Newbie. Hehe.

Di blog ini aku akan menulis semacam diary hari-hari sebelum, menjelang, saat, dan setelah keberangkatan ke Bumi Para Nabi ini. Karena panjangnya cerita ini, kupikir ini nanti akan jadi beberapa episode. Santai aja, kalau kamu udah baca ini, tandanya aku udah publish juga episode-episode selanjutnya. Hehe. Kalau kamu udah baca ini tapi belum ada, berarti kamu subscriber blog aku. Terima kasiih.

Oh iya, walaupun ini berbentuk catatan pribadi, tapi di sini nanti aku share juga beberapa tips yang kupikir akan sangat berguna buat teman-teman yang mau belajar ke Al-Azhar, Mesir; apa saja yang perlu dipersiapkan, bagaimana memilih mediator yang baik, bagaimana menyikapi kabar yang simpang-siur, tips packing, bersikap waspada di Mesir, dan masih banyak lagi. Tips-tips ini berdasarkan pengalaman pribadi yang mana aku belum pernah diperingatkan sebelumnya oleh kenalan-kenalanku. Semoga pengalamanku ini bermanfaat buat kalian yang sekedar mau tahu soal hal-hal di atas, apalagi yang punya rencana mau ke Mesir.

Kurang lebih, berikut ini daftar isi dari serial ceritaku kali ini:

  • Persiapan
  • Tes
  • Pengumuman
  • Penantian
  • Keberangkatan
  • Sebulan Pasca Keberangkatan

Persiapan

Sebagaimana umumnya orang yang mau masuk suatu perguruan tinggi, pastinya perlu persiapan dong, ya. Termasuk ke Al-Azhar, Mesir ini. Walaupun sebagian orang memandang rendah tes seleksi ini, toh faktanya nggak sedikit juga yang tertolak saat fase seleksi ini.

Belum lagi, nanti setibanya di Mesir, kita dites lagi untuk penempatan kelas bahasa yang wajib dijalani oleh setiap calon mahasiswa. Tapi hal ini dikecualikan bagi mereka-mereka yang memang sudah dianggap layak untuk langsung masuk Universitas Al-Azhar.

Rada bikin sakit hati sih, tapi kata temenku, “Orang-orang yang (setelah tes penempatan kelas bahasa tapi cuma) masuk ke tingkat mubtadi’ awwal dan mubtadi’ tsani itu mereka yang kemarin waktu tes di Indonesia cuma beruntung.”

Ya. Jadi, untuk bisa lolos seleksi di Kemenag (yang tesnya biasanya dilaksanakan di UIN) itu nggak harus pinter-pinter banget, kok. Kamu cukup memilih jawaban yang benar di antara pilihan-pilihan yang ada, ditambah membuat 1 tulisan yang berisi kurang lebih 150 kata dengan bahasa Arab.

Beruntungnya, soal-soal yang diberikan saat ujian itu nggak jauh beda dengan soal-soal di tahun-tahun sebelumnya. Dan ini sangat mudah didapatkan di internet.

Biasanya, kalau kamu ikut salah satu mediator, kamu akan dikasih soal-soal tahun sebelumnya. Untuk dibahas bareng dan dicari tahu jawabannya. Setelah itu dihafalkan.

Gampang banget? Ya, emang gitu faktanya. Dan ini yang aku lakukan di fase persiapan ini. Aku udah mulai latihan-latihan soal itu sejak tahun 2016. Karena memang rencanaku masuk ke Al-Azhar itu sejak tahun itu. Qadarullah, karena ternyata aku belum didaftarin paket C (supaya aku punya ijazah setara SMA), otomatis aku belum bisa daftar. Di tahun 2017 juga ada masalah lagi. Lembaga yang aku daftarin untuk ujian, ternyata nggak memenuhi kriteria lembaga yang bisa menjalankan ujian paket C.

Kegagalan di Maret tahun 2017 itu yang paling bikin deg-degan, sih. Soalnya itu terjadi setelah di bulan Januari aku ngelamar anak orang. Yang sekarang jadi istriku.

Gimana nggak deg-degan. Aku dulu waktu kenalan sama dia, rencananya adalah kita hidup masing-masing dulu. Biaya ditanggung dulu sama orang tua masing-masing. Yang penting hubungan udah halal. Chat mesra-mesraan nggak dosa. Nanti pas kuliah nggak sibuk mikirin cewek, karena udah punya. Gitu. Doang.

Jadi, ketika aku belum bisa berangkat ke Mesir, itu artinya aku harus hidup bareng dia. Sedangkan, sejujurnya, aku belum siap untuk ini. Kamu tahu, aku sudah merencanakan hal-hal yang kusebut di paragraf sebelum ini itu selama 6 bulan. Tentu saja nggak cuma yang kesebut di paragraf itu. Masih ada rinciannya. Tapi, intinya bukan hidup bareng dulu.

Aku pusing waktu itu. Gils.

Setelah dapat kabar soal ke-mandet-an rencana kuliahku di tahun 2017 itu, aku langsung kontak sang calon. Aku bilang ke dia apa adanya. Soal gagalnya pangkal dari rencana besarku yang menyangkut pautkan dia dan keluarganya. Dan aku nggak masalah kalau misalnya rencana pernikahan ditunda dulu atau dibatalkan sekalian.

Di satu sisi, aku tahu latar belakang keluarganya itu orang-orang pinter dan akademisi banget. Takutnya kondisiku yang kaya gini malah jadi beban. Di sisi lain, aku juga pengen ngebenerin rencana kuliah dan pernikahanku lagi. Lah abis gimana, sejak pertama kali ketemu, rencana yang kusampaikan ke dia dan orang tuanya ya itu. Mau ke Mesir, (bahkan perhitungannya saat itu, satu bulan) setelah nikah.

Lah, tapi jawabannya, “Nggak apa-apa”. Aku suruh dia tanya ke orang tuanya. Dijawab kaya gitu juga. Bingung aku.

Tapi, ya dari jawaban itu aku jadi agak mendingan. Nggak terlalu khawatir soal status pendidikanku jadi beban bagi mereka. Tapi nggak tahu, deh. Jangan-jangan sebenernya malah ngebebanin. Hehe. Waktu itu. Entahlah. Aku sendiri belum pernah nanyain ini langsung.

Cuma, tetep dong, masih bingung. “Kalau nggak kuliah, gua nanti ngapain dong?”, tanyaku ke diriku sendiri. “Ya kerja, lah!”, jawab diriku sendiri juga. “Iya, si..”, diriku mengiyakan.

Dan setelah diriku bisa menerima kenyataan takdir itu, tidak lain dan tidak bukan yang aku hampiri pertama kali adalah mas Fattah. Setelah itu kalau nggak salah ke mas Sa’id. Abah sama ummi udah aku kabarin, cuma aku nggak minta solusi soal kerja ke beliau berdua, soalnya beliau berdua kan memang belum ahli di bidang IT, yang mana memang sejak awal aku rencananya mau mencari uang dari situ.

Alhamdulillah kedua kakakku itu banyak bantu. Bahkan sampai sekarang, jasa mereka masih terasa, dan terus ada kerjasama juga.

Intinya fase kegalauan itu mulai bisa diatasi, dengan bantuan Allah melalui orang-orang terdekatku.

Pasca pernikahan, pastinya orang tua dan mertua itu punya jasa yang nggak bakal terbalaskan buat kehidupan rumah tangga pasangan bocah ini. Tapi, sedikit demi sedikit, bantuan materi dari mereka aku minta stop. Aku kabarin ke mereka, ya kan, soal hasil kerjaanku. Biar mertuaku tenang anaknya insya Allah nggak kelaperan sama aku. Biar orang tuaku juga tenang, anaknya nggak bikin anak orang kelaperan. Hehe.

Baru beberapa hari setelah akad, mertuaku memanggilku untuk menanyakan rencana kedepan. Bukan buat nuntut. Tapi justru supaya mereka tahu, apa yang bisa mereka bantu untuk menyukseskan rencanaku. Dan katanya hal ini udah biasa di keluarga istriku. Nggak tahu sih bener apa nggak. Tapi kayaknya bener. Hehe.

Ya udah akhirnya aku sebutin beberapa poin, yang jadi kebutuhan primerku untuk ke Mesir, terutama ijazah. Duit juga. Intinya, pertemuan kala itu menghasilkan sikap ibu mertuaku yang akhirnya selalu ngingetin aku untuk mengecek kepastian terdaftar, soal akreditasi lembaga, dan didukung untuk rajin hadir di pertemuan mingguan paket C di Magetan. Saking semangatnya, beliau kadang nanya, “Gimana kabar SIM C-nya?”.

Alhamdulillah, tahun 2018 kemarin aku akhirnya bisa melaksanakan ujian paket C. Walaupun nilai yang bagus cuma bahasa Inggris. Tapi gapapa. Daripada gamama. Yaga yaga.

Sebetulnya, kalau dipikir-pikir lagi, penundaan demi penundaan keberangkatanku ke Mesir itu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil.

Diantara yang paling kusyukuri adalah aku jadi bisa banyak interaksi dengan keluargaku, baik keluarga inti maupun keluarga besar. Seandainya langsung cabs ke Mesir seperti rencana awal, mungkin ada gap antara aku dengan mereka.

Selain itu, aku juga jadi bisa lebih mematangkan lagi pondasi sumber pendapatan. Karena (meski nggak jarang orang tua dan mertua ngasih macem-macem) aku sekarang udah berkeluarga dan lebih elok kalau bisa mandiri secara ekonomi. Baik untuk istri nun jauh di Indonesia, maupun untuk diriku sendiri sekarang ini di Mesir.

‘Ala kulli haal, untuk persiapan menuju Al-Azhar, ada 2 kebutuhan. Primer dan sekunder. Adapun yang primer, perhatikan 6 hal di bawah ini;

  1. Cari info pendaftaran ke timur tengah dari Kemenag, atau lembaga-lembaga yang punya kuota untuk mengirim calon mahasiswa ke Mesir. Jangan salah tahun.
  2. Pastikan punya ijazah atau surat keterangan lulus dari sekolah. Kalau nggak punya ini, ya nggak bisa. Oiya, maksimal usia ijazah 2 tahun ya.
  3. Siapkan dana yang dibutuhkan untuk administrasi dan biaya tiket. Kurang lebih Rp 13.000.000,00- kalau non-asrama. Kalau yang asrama, sekitar Rp 21.000.000,00-. Tapi kemarin anak-anak yang tinggal di asrama uangnya dikembalikan 5 jutaan. Enak yho.
  4. Memenuhi berkas-berkas yang diperlukan. Paspor, KTP, KK, dll.
  5. Pelajari soal tes untuk tahun-tahun sebelumnya. Kalau mau, bisa aku kirim file-nya. Email aja: [email protected]
  6. Hafalan Qur’an minimal 2 juz.

Itu tadi 6 kebutuhan primer kamu kalau emang kamu mau lulus tes. Untuk yang nomor 5, bukan primer sih, tapi mendekati. Dan insya Allah sangat sangat sangat membantu kamu. Masalahnya, nggak sedikit temen-temen yang cukup pinter, tapi karena nggak pernah latihan soal, nggak lulus. Kan sayang.

Nah, kalau ini persiapan yang sekunder;

  1. Nahwu.
  2. Sharf.
  3. Balaghoh. Ketiga hal ini nggak disyaratkan untuk kamu bisa masuk Al-Azhar. Seperti yang udah kubilang, yang penting kamu bisa ngisi jawaban dengan bener. Walaupun nggak paham, tetep bisa lulus. Kemampuan ini untuk menunjang kamu ketika tes bahasa di Mesir. Semakin tinggi hasil tes kamu, kamu akan lebih cepet kuliah. Dan tentunya, biaya juga jadi semakin ringan.
  4. Kontak kenalan atau kakak kelas yang udah di Mesir. Kalau bisa mereka yang ramah dan care sama anak baru, ya. Karena ada beberapa kasus justru anak-anak baru nggak diurusin sama kenalan/kakak kelas mereka. Kasian banget.

Segitu dulu mungkin, ya. Semoga manfaat. Jangan lupa baca lanjutannya.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.