Mimpi si Tukang Angkut Barang

Di suatu sore di Andalusia, negeri dimana Raja Roderick pernah berkuasa, terdapat tiga pemuda pembawa barang di pasar sedang bercengkrama selepas bekerja seharian. Tentu sudah menjadi hal yang lumrah bagi para pekerja kasar untuk melakukan hal ini.

Namun, di sore ini ada obrolan tidak biasa yang terjadi. Salah seorang dari tiga hummar (pembawa barang dengan menggunakan kedelai) tadi bertanya kepada kedua kawannya,

“Teman-teman, kira-kira, apa yang akan kalian pinta jika seandainya aku menjadi khalifah kaum muslimin?”

“Hahahaha… Kamu mimpi apa semalam? Berani-beraninya kamu mengkhayal seperti ini…” kira-kira begitu tanggapan kedua kawannya.

“Sudahlah… Sebutkan saja… Apa yang akan kalian pinta jika seandainya aku menjadi khalifah?” kata orang ini.

Lantas, salah seorang kawannya berkata kepada si Pemimpi ini, “Berikan aku istana yang besar, kebun yang begitu luas, serta uang sebanyak 100.000 dinar!”

Sedangkan kawannya yang lain mengajukan tantangan, “Jika memang engkau menjadi khalifah, naikkan aku ke atas keledai, hadapkan aku ke belakang, dan bawa aku keliling kota. Biarkan masyarakat menghinaku sepuasnya!”

Tentu saja kedua kawannya ini mengungkapkan keinginan mereka dengan yakin bahwa impiannya itu hanya umpama impian pungguk merindukan bulan.

Tapi si Pemimpi ini dengan mantap menjawab, “Kita lihat suatu saat nanti!”

Bekerja Lebih Keras

Ia pun mulai berusaha meraih mimpinya itu. Target angkutan barangnya ia dapat selesaikan lebih cepat dari sebelumnya.

Ketika ia dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, tentu akan ada waktu yang kosong dalam hari-harinya. Ia pun berinisiatif menyibukkan diri dengan pekerjaan tambahan lainnya. Ia mulai beternak dan berkebun.

Hasil kerja kerasnya sepanjang hari rupanya tidak begitu buruk. Selain menambah pundi-pundi uangnya, dengan beternak dan berkebun, ia juga meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan kedisiplinannya. Namun ia belum merasa puas dengan capaiannya ini.

Jalan Menuju Mimpi

Setelah bekerja cukup keras, ia mulai kembali memikirkan jalan untuk menggapai mimpinya. Baginya, pekerjaan-pekerjaannya tadi hanya batu lompatan untuk meraih mimpi.

Lembaga kepolisian Khilafah Bani Umayyah membuka lowongan bagi calon polisi-polisi baru. Ia berpikir, inilah awal perjalanannya di ranah kepemerintahan. Ia pun mendaftar, dan dengan beruntung, ia diterima.

Dengan modal semangat dan kerja keras yang telah ia pupuk sejak muda, ia dapat melalui kerasnya persaingan di dunia kepolisian dan mendapat kenaikan pangkat sedikit demi sedikit.

Ketekunan itu terus ia jaga dalam meniti karir di kepolisian. Segudang prestasi berhasil ia raih selama menjadi polisi dengan berbagai pangkatnya. Saat pemilihan tiba, ia pun terpilih menjadi kepala kepolisian ketika itu.

Takdir Menjawab Mimpinya

Takdir mulai menunjukkan garisnya. Khalifah wafat. Belum ada penggantinya kecuali seorang anak yang masih belum baligh. Tentu ia belum bisa mengatur pemerintahan.

Para pejabat pemerintahan pun berembug mengenai siapakah pemegang posisi khalifah sementara, selagi sang penerus tahta terus bertumbuh dan belajar menjadi pemimpin di kemudian hari. Mereka bersepakat bahwa ada tiga kandidat untuk hal ini. Ketiga kandidat tersebut adalah panglima militer, kepala kepolisian, dan menteri keuangan.

Namun, dalam hari-hari menuju pemilihan, rupanya sang menteri keuangan terbukti melakukan korupsi. Ia pun ditahan dan otomatis tersingkir dari posisi sebagai kandidat.

Dua kandidat yang tersisa, rupanya sama-sama berkeinginan memiliki posisi ini. Kedua pimpinan angkatan bersenjata ini pun kesulitan menemukan titik temu, sehingga pertumpahan darah pun tidak terhindarkan.

Memang sudah takdirnya, pertumpahan darah ini akhirnya dimenangkan oleh mantan tukang angkut barang di pasar. Ia kini memiliki posisi sebagai pemimpin sementara umat Islam di Andalusia kala itu.


Menjabat sebagai khalifah, tidak lantas menjadikannya gelap mata. Ketika ia memimpin, ia memprioritaskan pemerintahannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Ia membuka beasiswa dan memberi penawaran yang sangat menarik bagi para ahli ilmu yang mau membagikan ilmunya di Andalusia.

Para ahli dan penuntut ilmu dari berbagai bidang pun berdatangan ke Andalusia untuk mengambil tawaran dari Khalifah.

Pada saat itu, Khalifah juga membuat kesepakatan gencatan senjata dengan musuh-musuhnya. Keputusan ini diambil demi menjamin keamanan para guru dan pelajar di sana. Selain itu, keputusan ini juga menguntungkan militer kaum muslimin sehingga dapat memperkuat kemampuan bertempur mereka.

Khalifah sekaligus mantan tukang pembawa barang di pasar ini bernama Muhammad ibnu Abi Amir yang mendapatkan gelar Al-Mansur alias Sang Pemenang. Andalusia mencapai masa keemasannya, baik dari segi keilmuan maupun militer, di tangannya.


Memenuhi Janji

Saat sedang berada dalam istananya, Khalifah Al-Mansur tiba-tiba teringat percakapannya bersama dengan dua kawan pembawa barangnya. Setelah menerangkan ciri-ciri kedua temannya, ia pun memerintahkan beberapa pengawal istana untuk membawa keduanya ke istana.

“Apakah kalian kenal siapa aku?” tanya Al-Mansur.

“Tentu, wahai Khalifah. Engkau dulu adalah teman kami di pasar,” jawab salah seorang dengan malu-malu.

“Apakah kalian ingat apa yang pernah kalian pinta kepadaku apabila seandainya aku menjadi khalifah dahulu?” Al-Mansur kembali bertanya kepada mereka.

“Ya, wahai Khalifah. Kami ingat,” jawab mereka berdua.

“Apa yang dulu kalian pinta?” Al-Mansur bertanya kepada mereka berdua satu per satu.

“Aku dahulu meminta istana yang megah, kebun yang luas, serta uang 100.000 dinar, wahai Khalifah,” jawab salah seorang dari mereka dengan sumringah.

“Aku dahulu pernah meminta untuk dinaikkan ke atas keledai, dihadapkan ke belakang, serta diarak keliling kota sehingga masyarakat bisa menghinakanku,” jawab lainnya dengan menundukkan kepala.

“Wahai pengawal, berikan apa mereka inginkan!” perintah Al-Mansur.


rewrite dari sini

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.