Penuntut Ilmu, Ya Hafalin Qur’an

Berawal dari video seorang syaikh yang dishare oleh seorang senior di Al-Azhar, pikiranku terpantik untuk mengurai permasalahan yang memang sempat menjadi keresahanku juga; pelajar agama tapi malas berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Syaikh Dr Sa’id Al-Kamali Al-Maliki ditanya di forum yang direkam dalam video tersebut, mengenai kondisi seorang pelajar (mahasiswa) yang mempelajari ilmu syari’ah, namun lalai dari Al-Qur’an, terutama dalam menghafal atau menjaga hafalannya. Lantas Syaikh Sa’id mengingatkan, bahwa diantara ‘pakem‘ tidak tertulis dari para ulama sejak zaman dahulu hingga kini adalah mereka semua menghafalkan Al-Qur’an.

Fenomena ini, aku rasa, bukan hanya ada, tapi memang banyak menimpa penuntut ilmu, setidaknya di lingkungan yang pernah aku tinggali. Termasuk diriku sendiri, hehe. Ada diantara kami yang pada tingkatan membaca Al-Qur’an ketika shalat saja, ada yang menghafal ketika dapat tugas dari kampus saja, ada juga sebagian kecil yang memang memiliki kesadaran untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an-nya.

Pernah kujumpai, ada seorang kawan yang hampir seharian berada di atas kasur, turun hanya untuk ke kamar mandi, shalat, dan makan saja. Sesekali juga untuk mengisi ulang baterai ponselnya. Ada juga yang interaksi dengan Al-Qur’an-nya hanya ketika sore hari di hari rabu. Itu pun karena tiap rabu malam ada agenda evaluasi hafalan di asrama kami. Supaya saat dievaluasi, didapati bahwa jumlah hafalannya bertambah.

Meski ada sebagian besar yang seperti itu, tetap kuakui bahwa ada juga sebagian kawan yang rutin berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik itu membaca, menghafal, atau mengulang hafalan mereka. Mereka ini yang membuat suasana ruhiyah di asrama kami terus menyala. Setiap setelah subuh dan selepas maghrib asrama kami selalu hidup dengan bacaan-bacaan merdu mereka yang bersahutan.

Lalainya mereka dari Al-Qur’an memiliki beragam alasan. Ada yang kebetulan sedang ‘M’ (malas). Ada yang terlalu aktif berorganisasi, pergi malam-pulang malam. Ada juga yang terlalu rajin ber-talaqqi kitab sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk bersama Al-Qur’an.

Apapun alasannya, sebetulnya tidak bisa dibenarkan kalau sampai membuat seorang penuntut ilmu dari Al-Qur’an. Mungkin sebagian akan bilang, “Ngapain sih ribut masalah hafalan Qur’an? Emangnya wajib? Toh, kita juga mengisi waktu dengan melakukan aktifitas yang bisa bernilai ibadah juga.

Kepada yang beralasan seperti ini, Syaikh Sa’id Al-Kamali menjawab, “Kalau begitu alasannya, bukankah tidak wajib juga kamu mempelajari ilmu-ilmu syar’i (selain ilmu adh-dhoruri)? Tidak, tidak wajib! Lantas mengapa kamu mempelajarinya? Dan di sisi lain, banyak orang-orang awam yang ternyata lebih mengagungkan Al-Qur’an dibanding orang-orang yang memiliki ilmu syar’i itu! Orang-orang awam! Mereka mengagungkan Al-Qur’an, memuliakan penghafal Qur’an, lalu kamu yang diharap-harapkan pun pulang setelah belajar, namun kamu datang kepada kami dalam kondisi seperti ini (menyepelekan Al-Qur’an).

Beliau juga melanjutkan,

“Suatu ketika ada seseorang datang kepadaku, lalu ia berkata, “Sesungguhnya para ahli ushul berkata, mengenai syarat-syarat mujtahid… (tidak wajib hafal Qur’an)”

Perkataan ini aku juga tahu.. Sebagaimana para ahli ushul juga tahu, dan para pelajar juga mempelajarinya, bahkan aku juga mengajar ini kepada murid-muridku..

Tapi adakah dari para ahli ushul tersebut -yang manusia memuji mereka, dan pujian-pujian (itu memang) terhimpun dalam pribadi mereka, serta mereka dekat kepada Allah- sedang mereka tidak menghafal Al-Qur’an?

Ada perbedaan antara teori yang kami ajarkan dan apa yang terjadi dalam realitanya..

Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an, Imam Al-Qarafi hafal Al-Qur’an, Imam Asy-Syathibi hafal Al-Qur’an, Imam Al-Afasiy hafal Al-Qur’an..

Adakah seorang saja dari para ahli ushul yang tidak hafal Qur’an?

Dia mengklaim dirinya bahwa, “Aku adalah ahli ushul..”, tapi perbuatannya tidak menggambarkan seorang ahli ushul..”

Sebagaimana yang telah disebutkan Syaikh Sa’id, bahwa memang Al-Qur’an itu bukanlah suatu syarat yang tertulis di dalam daftar syarat-syarat mujtahid ataupun ahli ilmu ushul. Namun, pada realitanya, kebiasaan mereka-mereka yang telah menjadi mujtahid maupun ahli ilmu ushul, bahwa mereka semuanya menghafalkan Al-Qur’an. Hampir bisa dipastikan, bahwa setiap ulama yang kita kenal sekarang pun juga hafal Al-Qur’an.

Fenomena lalainya sebagian penuntut ilmu dari Al-Qur’an ini bertambah miris ketika kita menyadari bahwa ternyata masyarakat awam justru lebih antusias terhadap Al-Qur’an dibanding sebagian penuntut ilmu agama sendiri yang sehari-hari tentu tidak terlepas dari mempelajari hal yang berkaitan dengan syariat Allah.

Sudah saatnya para pelajar ilmu syar’i, terutama yang mengaku sebagai seorang Azhari, untuk mulai menghafalkan Al-Qur’an. Ditambah lagi seorang Syaikhul Azhar, Syaikh Muhammad Sayyid Thanthawi rahimahullah, pernah menyebutkan bahwa, “Bukan seorang Azhariy, mereka yang belum menghafal Al-Qur’an.”

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.