Rukun-rukun Shalat yang (Kerap) Terabaikan

Shalat adalah salah satu ibadah yang memiliki kedudukan paling mulia bagi Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang cukup populer [1], bahwa ia adalah ibadah yang pertama kali dihisab. Jika ia dianggap baik oleh pengadilan-Nya, maka akan dianggap baik pula amal-amal lainnya. Sebaliknya, jika ia dianggap buruk, maka amalan-amalan yang ia kerjakan selama di dunia juga akan dianggap buruk.

2 Pondasi

Kriteria shalat yang kelak akan dianggap baik mungkin sangat banyak; waktu pengerjaannya, dimana ia dikerjakan, bersama siapa ia didirikan, seberapa khusyu’ kondisi seorang musholli di dalam shalat, dan lain sebagainya. Namun, sebelum itu semua, ada 2 pondasi yang menjadi ibadah ini, sebagaimana kebanyakan ibadah-ibadah lainnya, yaitu syarat dan rukun shalat.

Walaupun tema utama di pembahasan ini adalah mengenai rukun shalat yang (kerap) terabaikan, tapi kami rasa tidak ada salahnya kalau kita bahas sedikit juga mengenai syarat sah shalat.

Syarat Sah Shalat

Definisi syarat sah dalam ibadah adalah, “sesuatu yang mana keabsahan suatu ibadah tergantung padanya – dan posisinya bukan satu bagian dari pelaksanaan ibadah”. Berikut ini syarat-syarat yang wajib dipenuhi agar shalat dianggap sah secara syar’i;

  1. Sucinya anggota badan dari segala hadats, baik itu besar maupun kecil, dan segala macam najis.
  2. Menutup warna kulit yang termasuk aurat dengan pakaian yang suci, sekalipun melaksanakan shalat dalam kesendirian atau di tempat yang amat gelap. (Insya Allah pembahasan aurat akan dibahas di artikel terpisah)
  3. Shalat dilaksanakan dengan bertempat di tempat yang suci, tidak ada najis di sana, baik najis hissiy maupun ma’nawiy.
  4. Mengetahui bahwa waktu shalat telah masuk (jika ia shalat fardlu). Jika ia tidak tahu bahwa waktunya sudah masuk, maka shalatnya tidak sah, sekalipun bertepatan dengan waktu shalat yang sebenarnya.
  5. Menghadapkan dada ke arah kiblat.

Khusus syarat sah yang kelima, ia boleh ditinggalkan dalam 2 keadaan;

  • Dalam kondisi peperangan yang membutuhkan kesiap-siagaan untuk menghadapi musuh.
  • Shalat sunnah yang dikerjakan di atas kendaraan dalam perjalanan panjang (safar). [2]

Selain 2 kondisi tersebut, maka syarat kelima tidak bisa ditinggalkan.

Kita sering mendapati sebagian kaum muslimin melaksanakan shalat wajib di atas kendaraan dalam safar, namun meninggalkan syarat ini. Padahal, jika ia ditinggalkan selain dari 2 kondisi yang telah disebutkan tadi, maka shalat yang dikerjakan tidak sah. Wallahu a’lam.

Rukun-rukun Shalat

Adapun definisi dari rukun adalah sebagaimana definisi syarat di atas, namun posisinya sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Rukun shalat ada 18 (ada khilafiyah -perbedaan pendapat- soal jumlah dan pembagiannya, namun esensinya sama);

  1. Niat di dalam hati yang dihadirkan saat melantunkan takbiratul ihram.
  2. Berdiri jika ia mampu (khusus shalat wajib).
  3. Takbiratul Ihram.
  4. Membaca Al-Fatihah dengan memperhatikan semua panjang pendek, makhraj, dan sifat hurufnya.
  5. Ruku’ hingga telapak tangan (di bawah jari-jari) mencapai lutut, jika ia mampu. Jika tidak, semampunya.
  6. Thuma’ninah, yaitu diam beberapa saat saat ruku’.
  7. I’tidal.
  8. Thuma’ninah saat i’tidal.
  9. Sujud dengan meletakkan anggota-anggota sujud yang wajib diletakkan di atas tempat shalat.
  10. Thuma’ninah saat sujud.
  11. Duduk diantara dua sujud.
  12. Thuma’ninah saat duduk diantara dua sujud.
  13. Duduk untuk tasyahud yang terakhir.
  14. Membaca tasyahud akhir.
  15. Membaca shalawat kepada Nabi.
  16. Mengucapkan salam yang pertama.
  17. Niat untuk mengakhiri shalat.
  18. Melaksanakan semuanya dengan berurutan. [3]

Keterangan:

Warna biru: Rukun yang ditunaikan dengan hati.
Warna hijau: Rukun yang ditunaikan dengan lisan.
Warna hitam: Rukun yang ditunaikan dengan badan.

Banyak Orang Mengabaikannya

Di kedua pondasi shalat di atas, tidak sedikit masyarakat kita yang kurang peduli, bahkan belum mengetahuinya. Namun, sebagaimana yang tertera pada judul artikel ini, bahwa di sini kita akan fokus pada rukun-rukun shalat, terlebih khusus soal beberapa rukun shalat yang sering diabaikan oleh banyak orang.

Pengabaian yang kami maksud di sini adalah penunaian beberapa rukun yang kurang sempurna. Meski begitu, penunaian yang kurang sempurna ini sangat berpengaruh pada keabsahan shalat. Artinya, mereka yang tidak menunaikan rukun tersebut (ini juga berlaku untuk seluruh rukun lainnya), shalatnya bisa menjadi tidak sah secara fiqih. Dengan kata lain, ia harus segera mengganti shalat-shalat tersebut, karena ia dianggap belum menunaikan shalat (yang di sana ada kekurangan dalam pelaksanaan rukunnya) sama sekali.

Adapun rukun yang banyak disepelekan ini adalah rukun qauliy atau rukun yang penunaiannya menggunakan lisan (yang diwarnai hijau).

Takbiratul Ihram

Pada dasarnya, seluruh rukun qauliy itu wajib dilaksanakan dengan menggunakan lisan dan mengeluarkan suara yang seminimal-minimalnya terdengar oleh telinga diri sendiri. Sehingga tidaklah cukup seseorang bertakbiratul ihram hanya dengan ‘mengucapkannya’ di dalam hati. Begitu pula jika dilaksanakan dengan menggunakan lidah, tapi ia hanya berupa gerakan tanpa suara.

Hal ini cukup banyak kami temui, baik saat di Indonesia maupun di Mesir sini, yaitu orang-orang yang memulai shalat dengan takbiratul ihram, namun bibirnya tidak bergerak sama sekali.

Bertakbiratul ihram di dalam hati sama sekali tidak memenuhi rukun qauliy yang pertama ini. Hal ini dikuatkan oleh sabda Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam yang berbunyi;

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا أَوْ يَعْمَلُوا بِهِ

Artinya: “Allah memaafkan umatku dari apa yang terlintas dalam hatinya selama tidak diucapkan maupun dikerjakan.” (HR. Muslim) [4]

Dari hadits ini kita bisa memahami bahwa apa-apa yang terlintas di hati itu masih belum terhitung sebagai suatu perbuatan yang bisa dihukumi, hingga ia menjelma menjadi suatu ucapan atau pekerjaan.

Selain itu, seluruh rukun qauliy juga wajib dilafalkan dengan pelafalan yang benar; panjang-pendeknya, maupun makharijul huruf-nya.

Al-Fatihah

Sebagaimana rukun qauliy yang pertama, Al-Fatihah juga wajib dibaca dengan lisan dan disuarakan. Dikala sendiri, berjamaah, atau di waktu disunnahkannya sirr (semisal shalat zhuhur atau ‘ashar) maupun jahr. Terdapat riwayat mengenai hal ini.

Abu Mu’ammar berkata, “Kami bertanya kepada Khabbab, ‘Apakah Rasulullah membaca (mengucapkan bacaan shalat) dalam shalat Zuhur dan Asar?’

‘Ya, benar,’ jawabnya.

‘Bagaimana kalian mengetahuinya?’ tanya kami lagi.

‘Dari gerakan jenggotnya,’ jawabnya. (HR Bukhari: 746) [5]

Riwayat ini juga menegaskan dan menguatkan keterangan mengenai pelafalan bacaan dengan lisan dan memperdengarkannya ke diri sendiri (minimal).

Tasyahud Akhir, Shalawat, dan Salam

Rangkaian bacaan yang dibaca di penghujung shalat ini juga tidak boleh disepelekan. Terutama pada tasyahud akhir dan salam, yang mana tidak sedikit orang yang keliru dalam membacanya.

Bacaan tasyahud akhir yang paling banyak dibaca oleh kaum muslimin, terutama Indonesia, kira-kira begini.

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

At-tahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaat lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahish sholihiin. Asyhadu alla ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh.” [6]

Dimana letak kekeliruan yang biasa dibaca? Perhatikan kata yang dicetak tebal.

Pada kata pertama dalam bacaan tasyahud, disebutkan “At-tahiyyaat” yang memiliki makna “segala penghormatan”. Penghormatan di sini, jika kemudian bacaannya dilanjutkan, adalah diperuntukkan bagi Allah Ta’ala.

Menjadi fatal dan bisa membawa kepada ketidak-absahan shalat, ketika 1 kata itu kemudian dibaca dengan keliru.

Di beberapa sekolah dasar (termasuk di sekolah dasar kami dulu), murid-murid bahkan sudah diajari untuk membaca dengan keliru. Hanya mencari kesesuaian nada (mungkin agar mudah dihafal), namun mengabaikan panjang-pendek dari bacaan itu sendiri. Padahal, sebagaimana yang telah diketahui, bahwa dalam bahasa Arab, panjang-pendeknya bacaan bisa mengubah atau menghilangkan makna yang dikehendaki.

Adapun ketika sekolah dasar, kami diajari untuk membaca bacaan tersebut dengan “At-taahiyaatu”. Di sana terdapat perbedaan bacaan tasydid dan mad (panjang)-nya. Adapun makna dari kata ini sendiri, sejauh yang kami ketahui, ia tidak memiliki makna dalam bahasa Arab.

Sedangkan dalam salam, kekeliruan yang terjadi biasanya terletak pada pengabaian tasydid di huruf siin dan huruf alif setelah huruf laam.

Bacaan salam yang seharusnya dibaca: “As-salaamu ‘alaykum wa rohmatullaah”
Terkadang dibaca: “Asalaamu ‘alaykum ….”
Atau dibaca: “Asalamu ‘alaykum ….”

Penutup

Sekalipun ilmu ini kerap dianggap remeh, ilmu anak kecil, dan berbagai julukan lainnya, nyatanya ilmu soal syarat sah dan rukun shalat ini tetap sangat penting untuk diketahui, terutama bagi setiap mukallaf. Semoga Allah senantiasa meliputi hidup kita dengan taufiq dan bimbingan-Nya. Aamiin.

Kairo, 16 Januari 2019 – Pukul 21:51


[1]: HR Abu Dawud no.864
[2]: Fathul Qarib Al-Mujib
[3] Ibid
[4]: kiblat.net
[5] Ibid
[6]: rumaysho.com

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.