Seleksi Masuk Al-Azhar

Setelah melakukan persiapan (pengetahuan, berbagai berkas, dan tentunya dana) yang cukup panjang (silakan baca di sini: Masisir Pemula), akhirnya dibuka juga pendaftaran tes seleksi dan penerimaan mahasiswa baru universitas-universitas Timur Tengah.

Begitu ada kabar dibukanya pendaftaran itu, langsung kucek website Diktis Kemenag dan kupastikan bahwa semua syarat dan berkas bisa kupenuhi.

Setelah daftar online dengan memenuhi formulir yang ada, aku pilih Pondok Modern Gontor, Ponorogo sebagai tempat tesku. Awalnya aku pengin milih UIN Sunan Ampel, Surabaya. Tapi pas kulihat bisa tes di Gontor, kupikir, kalau ada yang dekat, kenapa ambil yang jauh?

Sehari sebelum tes, aku mengumpulkan berkas yang perlu dikumpulkan ke panitia penyelenggara seleksi ini di Gontor. Sekalian survey lokasi. Aku ke sana sama Mas Umar, istrinya, dan istriku.

Tes di Gontor

Di hari H tes, istriku memaksaku untuk bisa ikut. Padahal aku ke sana naik motor. Karena kupikir kalau sekedar tes tapi bawa mobil, seperti yang disarankan Ummi, akan nampak lebay. Apalagi lokasi tesnya di pesantren.

Tapi ya gitu, kalau istriku udah maksa, susah juga menolaknya. Dan di sisi lain aku pun memang butuh support juga sih, hehe.

Begitu sampai di Gontor, nggak menunggu lama, aku langsung masuk aula untuk tes tulis. Tes itu dimulai jam 7.30, kalau nggak salah. Istriku pun kutinggal di warung depan pesantren karena di pesantren terlalu banyak santri.

Sebagaimana umumnya ujian, di situ hp juga harus disita untuk sementara waktu.

Kurang lebih selama 2 jam aku mengerjakan tes tulis itu. Ada beberapa hal yang mungkin bisa aku share ke kalian;

  1. Kurang lebih 70% soal pilihan ganda yang muncul di tes itu diambil dari soal-soal tahun sebelumnya. Jadi, jangan anggap enteng mempelajari soal-soal ini, ya.
  2. Kuatin hafalan Qur’an, terutama juz 30 dan juz 1. Ada beberapa pilihan ganda yang kita disuruh untuk memilih kalimat lanjutnya dari ayat yang terpotong.
  3. Bekali dirimu dengan pengetahuan-pengetahuan dasar seputar ilmu-ilmu agama yang wajib diketahui. Semisal thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, dan soal pernikahan serta perceraian.
  4. Banyak belajar menulis artikel singkat, minimal 150 kata. Karena soal terakhir adalah menuliskan opini kita mengenai hal-hal yang lagi viral menjelang tes itu dilaksanakan.
  5. Jangan lupa untuk memberi harakat/syakl pada setiap huruf yang kamu tulis.

Di tes tulis kala itu, aku merasa pede dengan hasilnya. Karena setelah kulihat-lihat, hanya 7 soal yang aku ragu tentang kebenaran jawabanku. Hehe.

Setelah tes tulis, kami diberi waktu untuk istirahat dan makan snack. Aku belum berani nengok istriku, karena setelah istirahat singkat itu, ada tes wawancara. Peserta tes yang dipanggil untuk masuk ke ruangan tes wawancara cukup random, menurutku. Jadi aku belum berani meninggalkan lokasi.

Setelah nunggu cukup lama, ternyata aku kebagian rombongan 1/4 yang terakhir. Padahal kurang lebih peserta tes kala itu 150-200an peserta. Hhhh..

Untuk tes wawancaranya, kami langsung dipanggil berlima. Satu per satu kami dites hafalan Qur’an-nya. 3 orang mengaku baru hafal 2 juz. 1 ngaku hafal 10 juz. Dan ketika aku ditanya, kubilang bahwa aku dulu pernah setor 30 juz, “Cuma sekarang kayaknya udah nggak sehafal dulu”, kataku buat cari aman.

Belum selesai aku menjelaskan, ternyata doktor itu keukeuh mau tes 30 juz. Alhamdulillahnya, yang beliau tanya itu masih sekitaran juz 4 dan satu pertanyaan dari surat An-Najm di juz 27. Alhamdulillah keduanya kujawab dengan lancar tanpa hambatan. “Mumtaz”, nilai yang beliau tulis di kolom nilaiku.

Untuk 10 juz pertama, aku memang punya porsi khusus untuk menjaganya. Karena itu diantara hafalanku yang paling bagus, bisa dibilang. Jadi porsi muraja’ah-nya aku kasih lebih juga. Supaya nggak terlepas sia-sia.

Kalau yang juz 27 itu, sejujurnya aku kurang lancar. Tapi, surat An-Najm memang beda. Dulu aku pernah diberi tugas eksklusif oleh Ustadz Yusuf Mansur untuk menghafal An-Najm dengan urutan dari ayat terakhir ke ayat pertama. Artinya, udah cukup kuat lah.

Setelah itu, kami diminta untuk membaca 1 sampai 2 kalimat dari satu paragraf dan ditanyai beberapa hal terkait kaedah bacaan yang ada di kalimat tersebut.

Di sini aku grogi sampai salah baca dan lupa posisi (status dalam kalimat tersebut, fa’il, maf’ul bih, dsb) salah satu kata yang ditanyakan. Padahal, ketika aku menyimak bacaan beberapa teman yang keliru, aku masih bisa mengoreksi dalam hati, lho. Tapi, ternyata giliran aku yang membaca, ada salah juga.

Selesai tes wawancara, doktor memberi kabar, bahwa hasil tes ini akan diumumkan tanggal 1 Juli 2018.

Begitu keluar ruangan, aku langsung menuju tempat parkir untuk mengambil motor dan langsung menengok istriku yang ternyata udah ketiduran di depan sebuah toko yang sudah tutup. Sedih sekali. Kelaparan pula.

Aku langsung bawa dia ke warung mie ayam yang nggak jauh dari situ. Langsung pesen mie ayam dan es jeruk 2. Dan emang rejeki, ternyata mie ayam di situ banyak banget mie-nya. Kami pun pulang dengan kenyang. Alhamdulillah.

Btw, maaf ya lama update-nya. Hehe.

*Featured Image / Gambar Unggulan bersumber dari cybermoeslem.xyz

2 pemikiran pada “Seleksi Masuk Al-Azhar”

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.