Tuduhan Siti Aisyah Protes kepada Rasulullah

Pernah lihat konten dengan narasi “Protes Siti Aisyah terhadap Poligami Nabi Muhammad” di Instagram atau media sosial lainnya? Gimana reaksimu? Termasuk yang setuju, menolak dengan lantang, atau kebingungan karena kaget ada hadits dengan matan (redaksi) seperti itu?

Awal Mula

Pertama kali aku baca postingan itu tanggal 9 April kemarin, saat tetiba seorang kawan kirim WA mengirimkan link terkait dan bertanya, “Mad, itu bener ga, haditsnya?”

Karena kebetulan ada matan yang dilatinkan, aku dengan mudahnya cek di aplikasi al-Bahitsul Haditsi dan menemukan matan itu, diriwayatkan di kitab Shahih Imam Bukhari (4.788), Imam Muslim (1.464), dan Imam Nasa’i (3.199). Diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Majah (2.000) dan Imam Ahmad (25.251), bahkan di-shahih-kan oleh Syaikh Albani juga.

Matan yang ditanyakan dan dipermasalahkan kawan itu adalah matan yang diterjemahkan sebagai berikut,

“Rasul, Tuhanmu itu loh, cepet sekali ya memenuhi hawa nafsumu.”

Berikut ini screenshot lengkap postingan yang dimaksud:

Sebelumnya, aku nggak terlalu ambil pusing karena akun yang post kupikir ya akan segitu-gitu aja, dalam arti, paling dikonsumsi sama internal orang-orang yang sepemahaman dengan mereka (feminis dan kawan-kawannya). Selain itu, biasanya ada kyai-kyai atau asatidz yang lebih kompeten yang meluruskan masalah ini.

Tapi, setelah beberapa hari, ternyata likers-nya tambah terus, bahkan ada beberapa akun yang ku-follow yang ikut like. Selain itu, para kyai masih adem ayem belum ada yang bahas ini. Akhirnya, 16 April kemarin, aku pun bawa postingan Instagram ini ke Facebook untuk meminta tanggapan kyai-kyai yang aku add dan masuk friendlist Facebook-ku.

Alhamdulillah setelah itu banyak penjelasan dari asatidzah untuk membantuku memahami hadits tersebut dan menerangkan kekeliruan dari narasi yang dibawa akun di atas.

Kekeliruan dan Pemaksaan

Setidaknya ada dua hal yang bermasalah dari postingan tersebut. Pertama, dari judul dan narasi yang keliru, kedua, pemahaman terhadap matan yang memaksakan, bahkan su’ul adab kepada Allah Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, bahkan Siti Aisyah Radliyallahu ‘Anha sendiri.

Kekeliruan Narasi (yang Disengaja?)

Pada post yang diunggah akun @mubaadalah tersebut, dikatakan bahwa Siti Aisyah memprotes poligami Nabi Muhammad. Padahal, hal ini sama sekali tidak pernah terjadi dalam sejarah hidup beliau.

Realitanya, setelah pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah, beliau menikah lagi dengan 8-10 (karena perbedaan riwayat dan pendapat) istri setelahnya. Dan tidak ada pengingkaran atau protes terhadap pernikahan-pernikahan tersebut.

Adapun hadits yang dibawa setelah narasi judul “Protes” tersebut ternyata konteksnya ketika datang wanita-wanita yang datang menawarkan diri untuk dinikahi Rasulullah tanpa mahar.

Ketika itu beliau heran dengan mereka dan berkata, “Apakah seorang wanita merdeka hendak menawarkan dirinya untuk dinikahi? (Awa tahabul mar’atu/hurrotu nafsaha?)” dalam riwayat lain, beliau berkata, “Tidakkah seorang wanita itu malu untuk menawarkan dirinya kepada lelaki? (Ama tastahyil mar’atu an tahaba nafsaha lir rojul?”

Pasti memang ada kecemburuan di sana saat mengucapkannya. Ini adalah kecemburuan yang amat wajar dari seorang istri yang sangat mencintai suaminya, ketika ada wanita yang menawarkan diri kepada suaminya untuk dinikahi.

Lalu setelah turun firman Allah untuk memberi pilihan kepada Nabi, beliau pun tidak menikahi shahabiyah tersebut. Jadi, tidak ada penambahan istri yang diprotes kala itu, sebagaimana sangkaan yang diposting.

Memahami hal ini sebenarnya sangatlah mudah. Cukup dengan melihat konteks kisah, dari awal hingga akhir, bisa paham akan hal ini. Bahkan, akun tersebut juga mencantumkan keengganan Nabi untuk menikah kala itu. Jadi, kalau sudah paham akan hal tersebut, tapi membawa judul yang nggak nyambung, besar kemungkinan ini memang penyesatan yang disengaja.

Pemaksaan Pemahaman

Adapun mengenai perkataan penutup dari Siti Aisyah sebagai respon turunnya firman Allah tentang kebolehan Nabi untuk menerima wanita yang menawarkan dirinya, di sana ada kesalahan yang tidak kalah fatal.

Akun @mubaadalah, mengutip tulisan Kyai Faqihuddin Abdul Kadir, memaknai kalimat, “Maa araa rabbaka illa yusaari’u fii hawaaka,” dengan kata-kata, “Rasul, Tuhanmu itu loh, cepat sekali ya memenuhi hawa nafsumu.” Barangkali, beliau ingin memaknai kalimat tersebut dengan ‘terjemah bebas’.

Tapi, pada hadits yang bisa disalahpahami maknanya seperti ini, penerjemahan yang terlalu mensimplifikasi kalimat beliau itu justru bisa mengarahkan ke makna yang salah. Bukan hanya ‘memprotes’ Rasulullah saja akhirnya, tapi ke Allah juga. Seolah-olah Siti Aisyah di sana juga ‘menyalahkan’ Tuhan yang memenuhi hawa nafsu dari Nabi-Nya.

Pelurusan Pemahaman

Hadits di atas pada hakikatnya menjelaskan bagaimana kehidupan suami-istri antara Siti Aisyah dan Rasulullah yang juga terisi dengan problematika kecemburuan Siti Aisyah (banyak juga hadits semacam ini) dan bagaimana Rasulullah memahami sifat cemburu tersebut pada istri yang paling beliau sayangi, setelah Siti Khadijah Radliyallahu ‘Anha.

Bahkan Siti Aisyah sendiri menjelaskan ini dalam pembukaan periwayatannya saat beliau berkata, “Kuntu aghaaru ‘alal laati wahabna anfusahunna li Rasulillah (Saat itu aku cemburu dengan wanita-wanita yang menawarkan diri kepada Rasulullah)…”

Lalu bagaimana pemahaman yang dipahami ulama mengenai kata-kata beliau, “Maa araa rabbaka illa yusaari’u fii hawaaka,”?

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi rahimahullah menerangkan tentang hal ini di buku beliau “Aisyah Ummul Mukminin“, bahwa kalimat tersebut justru dipahami oleh Ahli Bahasa Arab sebagai kalimat pujian dan kekaguman terhadap kedudukan Rasulullah disisi Allah. Bukan sebagai bentuk sindiran, apalagi protes, sebagaimana yang tertulis di post tersebut.

Selain itu Imam al-Qurthubiy rahimahullah menyebut bahwa redaksi “hawaaka” yang bermakna “nafsumu” itu muncul karena masih ada rasa cemburu di sana, akan tetapi Siti Aisyah sendiri memahami bahwa Rasulullah tidak berkata atau berbuat dengan hawa nafsunya sebagaimana firman Allah dalam surat an-Najm ayat 3. Hal ini sebagaimana perkataan beliau setelah turun ayat penjelasan terhadap haditsul ifki, “Aku tidak mau memuji kepada kalian berdua (Nabi Muhammad dan Abu Bakar), aku hanya memuji Allah.”

Karena sebelumnya, Rasulullah dan Abu Bakar sendiri tidak berani mengambil sikap membela Siti Aisyah disebabkan keterbatasan ilmu terhadap hal yang ghaib.

Kemudian, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah juga menjelaskan bahwa “Maa araa rabbaka illa yusaari’u fii hawaaka,” di sana akan tepat apabila dimaknai, “Tidaklah aku melihat kecuali Tuhanmu amat cepat menyambut apa yang engkau inginkan dan menurunkan (penjelasan) yang engkau sukai dan engkau pilih.”

Qultu: Komentar Siti Aisyah ini tentu saja setelah melihat berbagai peristiwa yang menunjukkan hal ini. Seperti proses hijrah, pemilihan tempat tinggal terbaik, perpindahan kiblat, bantuan-bantuan di masa sulit, dan lain sebagainya.

Jika pun kalimat Siti Aisyah ingin dimaknai dengan lebih ringkas dan sesuai, kurang lebih, “Wahai Rasulullah, Tuhanmu itu cepat sekali memenuhi keinginanmu, ya.” Wallahu a’lam.

Catatan:

  1. Penambahan “Siti” pada nama Aisyah adalah kebiasaan yang diawali oleh orang-orang Mesir, dalam meringkas kata “Sayyidati” yang berarti “Puan”. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh orang-orang Melayu dalam menyebut para shahabiyah, terutama bagi Ummahatul Mukminin dan Ahli Bait Nabi.
  2. Akun @mubaadalah memang mengangkat isu feminisme sebagai tema akun tersebut. Terkadang, mereka mencatut beberapa hadits atau pendapat ulama yang (menurut mereka) sesuai dengan pemahaman mereka.
  3. Sayyidah Aisyah adalah wanita yang sangat cerdas. Beliau sering dijadikan simbol para feminis dalam menyebarkan pemikiran ini. Baca esai menarik tentang pelurusan pemahaman ini di sini.

Satu pemikiran pada “Tuduhan Siti Aisyah Protes kepada Rasulullah”

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.